Sudah sejak lama sebenarnya saya pengen banget nulis
tentang topic ini #CintaMulia, topic ini tidak akan pernah punah di makan
zaman. Cinta seringkali dihubungankan
dengan sebuah perasaan special kepada lawan jenis, padahal kan derajat
tertinggi dari sebuah cinta, adalah ketika cinta itu kita tujukan kepada Allah
SWT. Tapi kali ini yang pengen saya bahas adalah cinta kepada lawan jenis, yaah
ngakunya sih itu #CintaMulia, bener gak siiih?
Saya memang memutuskan untuk tidak pacaran, dan
berusaha menjaga perisai cinta mulia itu dalam balutan ketaatan sambil terus
belajar memperbaharui ilmu tentangnya, semoga istiqomah sampai kelak cinta
mulia itu akhirnya berlabuh dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Tapi beberapa
waktu lalu sebuah buku mengelitik hati kutemukan di sebuah toko buku, judulnya “Putusin
Gak Yah”, yang kurang lebih membolehkan hubungan laki-laki dan perempuan itu
dalam konteks “pacaran”. Alasannya bahwa ketika si pria dan si wanita ini boleh
pacaran karena mereka sudah menjalin hubungan serius menuju pernikahan, tapi
kalo waktunya mungkin masih lama, mungkin masih tahun depan, gimana dong????. Alasan
lainnya adalah, bahwa kita sering kali memponis wanita atau pria yang pacaran
itu terlihat berlumur dosa, padahal sebenarnya si wanita menjalankan kewajiban
lainya sebagai muslimah, yakni sholat, menutup aurat, mengaji, dll. Demikian pula
si pria, ia pun patuh melaksanakan kewajibannya yang lain, sementara hubungan
yang dibina memang sudah sangat serius, istilahnya sisa nunggu akad, tapi
lamaran aja belum, mana ada tanggal nikah, welleeh weeleehh…..
Saya sepaham banget dengan buku yang ditulis ust. Felix
(Udah, Putusin Aja), juga buka Ust.Arif Rahman Lubis (Halaqah Cinta), buku mba
Fufuelmart dan mas canun kamil (Jodoh
Dunia Akhirat), serta buku ManjaddaWajadaa (Cinta Itu), semua mengemas cinta
itu dalam ketaatan dan tidak ada istilah pacaran. Yaaa, menurut saya meski
hubungan tersebut serius kalo belum ada lamaran dan belum ada tanggal nikah
kita gak boleh sering sering komunikasi yang topiknya nyerempet-nyerempet, yaah
berkedok memperhatikan dengan mengingatkan sholat, mengingatkan makan,
sampai-sampai yang di ingatkan klepek klepek dan pikirannya mulai membentuk
suasana sendiri, membayangkan ia dan si pria sedang makan berdua, ia sedang
sholat jamaah, setelah sholat jamaah cium tangan deehhh, HATI HATI gguuyysss,
itu sudah mulai mendekati zina, zina pikiran. Naah itulah kenapa kita gak
dibolehkan pacaran, agar kita terhindar dari yang segala macam bentuk zina.
Beberapa teman saya perhatikan melakukan hal
demikian, katanya pacaran islami, pacaran islami itu yang kayak apa siiihhh?. Pacaran
islami, katanya gak pernah berduaan, gak saling bersentuhan walau di tempat
ramai, trus sudah seriusan mau ke pernikahan, tapi disamping itu, masih saling
lirik lirikan, sms an dan bbman lancar, stalking fb, twiter, istagram, path
tiap menit, sampai status bbm nya jadi awet karena nulis nama pacarnya, waaallaaahhh
ngerinyaaaaa.
Trus ada juga yang nanya ke saya, kalo kita gak
saling komunikasi, gimana dong kita bisa saling mengenal satu sama lain, harus
komunikasi dong. Naah untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin menceritakan
sebuah kisah #CintaMulia dari seorang sahabat yang sekaligus sudah menjadi guru
saya, ia seorang pemuda yang begitu taat kepada Tuhannya.
Pada suatu hari
pemuda ini menaruh hati kepada seorang perempuan cantik nan shaliha, tanpa basa
dan juga basi, ia langsung mengutarakan keinginannya meminang perempuan ini,
tapi karena sesuatu sebab perempuan ini mengatakan bahwa dirinya belum siap
untuk menikah sekarang, kalo pemuda ini mau menunggunya untuk jangka waktu
kurang lebih 2 Tahun, tapi kalau dalam penantiannya ia tidak sabar menunggunya,
ia di bebaskan untuk meminang perempuan lain. Si Pemuda berkata bahwa ia siap
menunggu, dalam penantian itu tidak ada sama sekali komunikasi dan interaksi,
nomer hp perempuan ini pun tidak ia tahu, yang ada cuma kontak email. Mereka saling
menjaga dalam ketaatan, bukan malah pacaran sambil menunggu hari H lamaran atau
tanggal nikah. Menjelang 2 Tahun,
perempuan ini kemudian mengirim email kepada si pemuda tadi, dalam email
tersebut dikatakan bahwa saat ini ia sudah siap menikah, tapi sebelum menyetujui
untuk dilamar, ia menginginkan si pemuda ini mengirimkannya sebuah proposal
pernikahan melalui email, dalam proposal pernikahan inilah mereka saling
menyatukan visi dan misi pernikahanya, hingga akhirnya proposal pernikahan
pemuda ini disetujui setelah 3 kali perubahan, dan atas izin Allah
dilangsungkanlah pernikahan dengan nuansa islam yang sangat kental, ribuan
bahkan jutaan malaikat rasa-rasa hadir mendoakan mereka berdua yang senantiasa
menjaga cinta mulia mereka dalam balutan ketaatan.
Cerita lain saya peroleh dari sahabat di tempat saya
bekerja, saya iseng bertanya bagaimana proses pertemuannya dengan sang suami
hingga ke pernikahan, dan inilah ceritanya….
Waktu itu ia
masih sangat muda, ia masih duduk di bangku SMA, seseorang datang kerumahnya,
ternyata ia mau melamar sahabat saya ini, tapi karena sahabat saya ini masih
belum siap dan sepertinya masih ada keinginan untuk melanjutkan kuliah terlebih
dahulu maka lamaran pada waktu itu pun ditunda. Hingga beberapa tahun kemudian
orang tersebut datang lagi untuk melamar, ia ingin melamar sahabat saya untuk
adik laki-lakinya. Pada saat itu, ia berfikir bahwa jika ada laki-laki yang
baik agamanya, dari keluarga baik-baik dan juga sudah mampu hidup mandiri
sungguh tak ada alasan untuk menolak, meski pada saat itu ia masih kuliah. Pada
waktu itu sahabat saya hanya mengajukan satu syarat bahwa setelah mereka nanti
menikah, calon suaminya harus rutin ikut pengajian. Yang membuatku takjub
adalah, rentan antara lamaran pertama dan lamaran kedua itu sangat lama, dan
dalam rentan waktu bertahun tahun itu pun tak ada komunikasi, bahkan ia menolak
untuk dipertemukan, setelah saya tanya kenapa, kata sahabat saya ia takut wajah
pria yang telah melamarnya itu terngiang ngiang terus di fikirannya,
subhanallah, sungguh betapa taat nya ia menjaga cinta mulia itu, akhirnya ia
baru bertemu pertama kali satu minggu menjelang akad nikah, dan saat ini mereka
sudah dikarunia bidadari cantik berusia 3 tahun.
Sumpaahhh cerita cerita seperti itu biikin merinding
plus bikin iri, iri pada keistiqomahannya menjaga diri dan cintanya, itu semua
terjadi karena cinta kepada RabbNya. Naah, yang sekarang katanya sudah serius,
jangan kelamaan nunggu, ayoo buruan dilamar, supaya tanggal nikahnya segera
ada. Kalo memang masih nunggu tahun depan, atau dua tahun lagi, mending batasi
komunikasi atau mungkin pengen mencontoh sikap ketaatan sahabat sahabat salih
dan salihah kita diatas.
Bagi sahabat muslimahku, kalo memang ia serius, suruh
dia melamar, kalo belum bisa, kita harus tegas dong, jaga hati jaga pikiran……
Semoga kita semua yang belum dipertemukan dengan
pangeran surga dan bidadari surga kita masing-masing, segera dipertemukan, in shaa Allah akan menemani
kita di dunia dan akhirat. Aaamiin
Salam Santun
@IrnaYuliani_