Do What You Love, Love What You Do

Minggu, 25 Oktober 2015

Cukup Kami

Sepertinya mendung, tapi tak berarti hujan

Aku lupa itu hari apa, sudah sekitar tiga minggu yang lalu, yang kuingat pagi itu tampak mendung, matahari sungguh enggan menyapaku, mungkin akan turun hujan, pikirku. Setelah sekian lama tak mencium aroma tanah yang basah karena hujan, mungkinkah hari ini aku akan mencium aroma itu, semoga harapku dalam hati waktu itu.

Tiba tiba harapan itu menjadi sirna saat temanku berkomentar dan mengarahkan pandanganku ke atap rumah rumah warga, apakah kamu bisa melihat atap atap rumah mereka. Kutajamkan penglihatanku, yaa atap atap rumah warga tak terlihat sama sekali, tapi saya masih belum mengerti. "Ini bukan mendung na, ini kabut asap, kalo mendung masa awan nya bisa sampai menutupi atap rumah. Sedikit tersentak aku dibuatnya, kuarahkan lagi pandanganku, jauh kesegala penjuru, dan yaaa ini memang bukan mendung ini kabut asap.

Tiba tiba terasa sesak, pemandangan diluar terlihat makin menyeramkan, sepertinya negara api sudah menyerang. Teringat kawan kecilku diluar sana, apa kabarnya dia. Ia yang kadang hanya berganti baju seragam sekolah, celana sekolahnya yang berwarna merah pudar masih ia pakai menyusuri jalan jalan kota kecil ini, menjajakan kue hasil buatan ibunya.

Pernah suatu ketika aku bertemu dengannya disebuah pelataran mesjid selepas Isya, ia sedang beristirahat, kupandangi dagangannya yang masih banyak. "Kenapa masih jualan sampai jam segini de, tanyaku padanya".  Ia tak langsung menjawab, malah sibuk melihat sekeliling apakah ada yang mau membeli dagangannya, baru beberapa menit kemudian ia menjawab, "Aku butuh uang untuk beli buku paket di sekolah kak" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari sekitar, kalau kalau ada yang mau membeli dagangannya. 

Usianya masih sangat belia, ketika ia harus mencicipi kerja keras. Sebelum meninggalkannya, kuborong semua dagangannya, dan menyuruhnya untuk segera pulang, ini sudah larut malam untuk anak seusianya yang masih diluar rumah sendirian.

Semenjak kabut asap melanda kota kecil ini aku jarang melihatnya, kadang aku sengaja menunggunya lama dipelataran mesjid tempat ia sering beristirahat sejenak, tapi tak kunjung juga kelihatan. Hingga beberapa hari yang lalu aku melihatnya berjualan di depan mesjid, lalu kuhampiri ia. Wajah cerianya tak terlihat, tertutupi masker tapi dari tatapan matanya ia tampak terlihat sangat letih.

Ternyata hari ini adalah hari pertamanya kembali berjualan,  ibunya melarang ia keluar rumah selepas sekolah, selama dua minggu ia tak dapat tambahan uang untuk membeli buku sekolah, masih ada beberapa buku yang harus ia beli, ia hanya berjualan di rumahnya, hasil jualannya pun hanya cukup untuk makan sehari hari.

Negeri ini menjadi putih, bahkan menjadi kuning, mungkin dianggap sepele oleh mereka yang masih bisa bebas berjalan jalan menghirup udara tanpa khawatir akan terjadi sesuatu. Tapi lain halnya untuk mereka yang mencari rezeki di jalanan, mengucurkan keringat di udara terbuka. Kadang mereka harus berhenti karena kondisi udara yang makin memburuk, lalu siapa yang peduli, mereka kecil tak terlihat.

Tapi mereka ada, mereka juga hidup di negeri ini, kabut asap yang melanda sudah menjadi neraka dunia, membunuh perlahan, bukan hanya menjadikan paru paru kita lama kelamaan menjadi tak berfungsi dengan baik, tapi juga mengganggu sebagian dari mereka yang mencari rezeki di luar sana.

Lalu mereka yang berdasi, bekerja di balik meja di ruangan ber AC apakah peduli ? Peduli pada negeri yang menjadi putih, mungkin jika negera api menyerang gedung gedung megah mereka, baru mereka tersadar bahwa negara api sudah menyerang kami lebih dahulu.

Semoga hanya kami yang merasakannya, cukup hanya kami.

Samarinda, 25 Oktober 2015
Salam Santun

@irnayuliani_

Kamis, 22 Oktober 2015

Rasamu

Setelah hari itu aku baru tau, tak ada yang bisa menyimpan rapi rasanya, serapi kamu menyimpannya.Tapi rasamu tak bisa kamu sembunyikan dariku, aku tau kapan rindu diam diam menyapamu.

Aku juga tau kenapa kamu dengan sangat rapi menyimpan semuanya, kamu sesungguhnya takut membuat resah seseorang, iyakan? 

Seperti lelah yang selalu berusaha kamu sembunyikan, seperti sedih yang selalu kamu rahasiakan, tapi tak bisa kamu sembunyikan dariku.

Aku tau kamu hanya ingin berbagi bahagia, aku tau kamu hanya ingin memastikan ia baik baik saja, tanpa harus menanyakan banyak hal. Ia yang selalu diam diam kamu rindukan. Ia yang kini dibatasi ruang dan waktu untuk kamu pastikan baik baik saja.

Kamu yang tak pernah absen mendoakannya, aku tau itu. Kamu yang ingin sekali bertemu tapi tak memintanya untuk bertemu, kamu tak ingin mengganggu kesibukannya, padahal jika kamu meminta untuk bertemu ia pasti akan segera datang.

Kamu, ibu luar biasa yang aku punya...

Kamis, 08 Oktober 2015

Kamulah Inspirasiku

Semenjak menginjakkan kaki pertama kali di kota kecil ini setahun yang lalu, semenjak itulah saya jatuh cinta, jatuh cinta pada keramahtamahan masyarakatnya, jatuh cinta pada keberagaman suku yang ada. Tidak cukup sulit bagi saya untuk berbaur dengan masyarakat kota ini yang sebagian besar penduduknya adalah perantauan seperti saya.

Setahun berlalu dan Allah banyak mempertemukan saya dengan orang orang baru, seperti Allah telah menuliskan pertemuan yang sangat indah dengan sekumpulan manusia manusia luar biasa pada tanggal 5 September 2015. Hari itu adalah hari dimana berkumpulnya para relawan yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama "Kelas Inspirasi". Kelas Inspirasi melaksanakan kegiatan mengajar sehari di sekolah, dimana tim pengajarnya berasal dari tenaga tenaga profesional yang berbeda beda, mereka bertugas untuk memperkenalkan profesi mereka kepada anak anak, memberi tau cara untuk bisa menjadi seperti mereka, mengajarkan mereka tentang impian, memberi mereka semangat, berbagi keceriaan, dan masih banyak lagi, sebagaimana tag line dari Kelas Inspirasi Samarinda "Mengajar Sehari Seumur Hidup Menginspirasi", itulah tujuan utama kita, semoga dengan apa yang telah kita bagi kepada mereka, dapat menginspirasi mereka untuk semangat menggapai cita cita dan lebih baik lagi.

5 September 2015, adalah pertemuan pertama saya dengan teman teman yang tergabung satu kelompok dengan saya, pertemuan yang masih terasa dingin, kaku, malu malu (mungkin perasaan saya saja, hehee), tapi itu cuman diawal, suasana cepat mencair seiring waktu dan pertemuan intens kita di grub online.Lahir dari niatan yang sama, yakni bisa menjadi manusia yang bermanfaat kepada sesama, menumbuhkan rasa kekeluargaan diantara kami. Rasa kepedulian dan persaudaraan yang tumbuh, memudahkan kami dalam bekerja tim untuk mempersiapkan hari inspirasi yang terjadwal 14 September 2015 bertempat di SDN 015 Samarinda Ulu. Segala kendala bisa terselesaikan dengan baik, semangat luar biasa dari teman teman kelompok saya adalah satu inspirasi pertama yang saya peroleh.

14 September 2015, matahari pagi itu terasa beda, ia tampak bersinar penuh ceria, seakan menyapa semangatku yang hari itu bersiap melangkahkan kaki ke salah satu sekolah dasar yang ada di Kota Samarinda. Sesuai dengan jadwal yang ada, semua relawan diharapkan untuk mengikuti Upacara Bendera, dan saya sudah lupa kapan terakhir saya mengikuti upacara bendera di hari Senin, dan hari itu saya sangat bahagia bisa ikut upacara bendera. Upacara berlangsung penuh hikmat, suasananya mengena dihati, selalu merasa bangga lahir dan besar di Negara ini, Indonesia.

Selepas upacara kakak kakak relawan yang terdiri dari Inspirator, Dokumentator dan Fasilitator mengajak adik adik siswa siswi SDN 015 untuk menyanyi sambil menari. Melihat keceriaan mereka, senyum dan tawa lepas mereka, itu adalah moment mahal yang sulit terulang. Setelah itu tibalah akhirnya kami dari teman teman relawan Inspirator untuk memasuki kelas menggantikan bapak ibu guru mereka, mengajar dan berbagi banyak hal kepada mereka.

Disambut dengan penuh keceriaan, diberikan pelukan hangat, mereka berebutan untuk salaman, kesan pertama saya masuk kedalam kelas. Kalian anak anak luar biasa yang dimiliki negeri ini, kalian berhak mendapatkan pendidikan yang layak, ucap batinku kala itu. Sebagai seorang ahli gizi yang setiap hari berkutat dengan penilaian status gizi dan konseling gizi, akan sangat mudah menyampaikan profesi saya dengan bermain menggunakan alat peraga sederhana yakni gambar gambar buah dan sayur. Menyampaiakn kepada mereka bahwa seorang ahli gizi mempunyai tugas untuk menyampaikan tentang makanan yang sehat kepada masyarakat, baik yang sedang sakit ataupun tidak. Beberapa dari mereka ada yang akhirnya bercita cita jadi seorang ahli gizi, semoga Allah memudahkannya.

Disetiap kelas saya diamanahi tugas untuk mengajarkan satu tepuk yakni tepuk kasih sayang, banyak dari mereka malu malu untuk melakukannya, tapi akhirnya mereka dengan mudah melakukannya,. Tepuk kasih sayang ini kemudian membuat saya menjelaskan kepada mereka bahwa kita harus saling menyayangi sesama manusia, contohnya harus sayang kepada orang tua, saudara, guru, teman teman, dan mereka tampaknya paham dan akhirnya tidak malu malu memberi tepuk kasih sayang kepada temannya. Yaaa, ini hanya tepuk sederhana tapi artinya bisa sangat dalam.

Diakhir sesi semua anak kemudian menggantungkan cita cita mereka di pohon impian, berharap impian mereka yang beragam bisa terwujud suatu saat nanti. Pertemuan hari itu akhirnya ditutup dengan foto bersama, semoga kedatangan kami bisa memberi inspirasi buat mereka.
Demikianlah cara Allah mempertemukan kami, menghimpun kami dalam project kebaikan, semoga segala usaha kami bernilai ibadah disisiNya. Akhir kata, terima kasihku kepada semuanya, kalian semua adalah inspirasi luar biasa buatku, bahagia menjadi bagian dari kalian, anak perantauan ini punya tambahan keluarga baru, samapi jumpa di project kebaikan selanjutnya my superteam.

Nonton keseruan kami di Kelas Inspirasi Samarinda SDN 015 Samarinda Ulu, klik https://youtu.be/T67z2TZYxCU

Semangat menebar manfaat,
Salam Santun
@irnayuliani_