Do What You Love, Love What You Do

Tampilkan postingan dengan label Catatan Hatiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Hatiku. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Desember 2015

Ini cerita liburanku, cerita liburanmu mana?

Keputusannya melepas anak gadis nya tinggal jauh dari keluarga saya tau sungguh sangat berat baginya, tapi kebanggaan nya pada anak sulungnya atas setiap pencapaiannya menguatkan hatinya untuk membiarkannya pergi, menggapai mimpi mimpinya untuk menjadi sebaik baik manusia yang bermanfaat bagi sesamanya, ia tak lain adalah lelaki  yang kupanggil bapak, disampingnya berdiri seorang perempuan berhati emas yang tak henti hentinya berdoa pada Allah agar menjaga anaknya di rantauan, dialah yang sejak berpuluh tahun silam aku panggil mama.

Tak terasa sudah setahun enam bulan mengemban tugas sebagai pelayan masyarakat di salah satu kota di pulau kalimantan, yang otomatis membuat intensitas pertemuan saya dengan orangtua sangat sedikit, kerinduan pun akhirnya hanya seringkali berlabuh dalam bait bait doa.

Menjelang penghujung tahun, ajakan liburan dari teman teman mulai berdatangan, mengingat ada beberapa tanggal merah yang memungkinkan bagi saya untuk bisa bergabung, akan tetapi di tengah keinginan untuk ikut menjelajah tempat tempat baru, hati kecil ini berbisik tentang dua malaikat yang senantiasa rindu menunggu saya untuk pulang, dialah mama dan bapakku. Merekalah  yang selalu menjadi alasanku untuk kuat, untuk selalu semangat berkarya, semangat  berbagi, dikala kejenuhan menghampiri, perjuangan mereka membesarkan, menyekolahkan, mendidik, dan mengurusi segala hal tentang hidupku selalu menjadi penyemangat luat biasa, lalu kenapa saya tidak memilih liburan bersama mereka ?.
Saya pun akhirnya memutuskan untuk pulang kampung dan menikmati liburan bersama keluarga.

Bagi saya moment saat perjumpaan pertama kali dibandara setiap kali mereka datang menjemputku setelah lama tak bertemu adalah moment paling mengharukan, mereka rela datang lebih awal untuk menghindari macet dan menunggu berjam jam dari pada harus telat datang menjemputku. Melihat wajah mereka dari kejauhan, dengan pandangan mata penuh harap, mencari cari dari kerumunan orang banyak yang satu persatu melintas pintu kedatangan, berharap diantara mereka ada seseorang yang mereka tunggu. Pemandangan seperti itu sungguh mengharukan bagi saya, gelombang cinta yang teramat besar kurasakan dari kejauhan saat kembali bertemu kedua orangtua yang begitu saya rindukan.

Disambut gerimis, kota kecil ini terasa ikut juga menumpahkan kerinduannya padaku. Perjalanan ke kampungku akhirnya harus ditempuh selama kurang lebih dua jam karena jalanan licin dan berkelok kelok. Kecamatan Camba, Kab.Maros Sulawesi Selatan dengan bangga kuperkenalkan sebagai kampung halamanku, sebuah desa kecil di kaki gunung sekitar 45 km dari pusat Kota Kabupaten Maros.

Dua jam perjalanan tak pernah membuat saya bosan atas suguhan alam yang begitu indah sepanjang perjalanan, melewati hamparan sawah yang menguning, suara derasnya air sungai memecah bebatuan, gunung gunung yang menjulang, melewati kawasan hutan lindung dan sungguh beruntung waktu saya lewat sekawanan kera sedang asyik makan di pinggiran jalan, kera kera itu sangat jarang bisa kita temukan saat ini. Kaca mobil kubiarkan terbuka, kubiarkan angin membelai wajahku, bergantian dengan gerimis yang sesekali menghampiri, siapa sangka sekumpulan kupu kupu dengan beraneka warna dan ukuran yang berbeda dengan santainya datang menghampiri seolah olah menyampaikan ucapan selamat datang. Allah, terima kasih atas suguhan alam yang begitu sempurna menyambut kedatanganku kali ini.

Rencana liburan sudah saya susun, kali ini pengen mengajak keluarga maen ke air terjun, air terjun yang paling terkenal di Sulawesi Selatan, yakni Air Terjun Bantimurung, juga pengen ngajak makan pisang epe di anjungan Pantai Losari, juga wisata kuliner ke tempat makan favorite, tapi apalah daya hujan tak henti hentinya menghuyur. Alhasil rencana liburan pun akhirnya berubah dengan berjalan jalan mengitari pusat perbelanjaan sambil sesekali mampir untuk makan bersama, selebihnya liburan saya nikmati di rumah saja.

Sepertinya Allah punya rencana lain atas liburan saya, saya lebih banyak menghabiskan waktu liburan di rumah, bercengkrama dengan orangtua dan saudara, mendengarkan adik yang lahir setelah saya menjelaskan tentang ribetnya menjalani praktikum dan segala hal tentang perkuliahannya serta dengan setia mendengar adik bungsuku menjelaskan nilai nilai ujian semesternya, mendengarkan bapak dengan seabrek cerita tentang berbagai pengalaman hidupnya, sambil menikmati berbagai cemilan yang dibuat mama. Demikianlah liburan yang kami nikmati dengan bercerita dan saling mendengarkan, bercerita tentang harapan dan impian impian kami masing masing, mendengarkan nasehat bapak dan mama yang tak pernah habis. Kami tertawa, bersenda gurau menikmati kebersamaan yang begitu singkat, dan akhirnya saya mengerti bahwa liburan itu bukanlah tentang dimana tapi bersama siapa dan bagi anak perantauan seperti saya liburan bersama keluarga adalah yang paling tepat.
Jika kamu punya waktu yang cukup luang, sesekali habiskanlah liburanmu bersama orangtua, karena tak ada yang bisa memastikan liburan mendatang kita masih bisa bersama.

Ini liburanku, mana liburanmu?

Sabtu, 05 Desember 2015

Dear, My Future Husband

Kepadamu yang masih dirahasiakan keberadaannya
Bisakah kamu merasakan rindu yang kutitip lewat angin
Entah senja yang mana yang akan kita nikmati bersama
Aku hanyalah perempuan akhir zaman
Yang masih tertatih menjaga istiqomah
Yang masih belajar menjaga hati

Aku berhenti mencarimu diantara bunga bermekaran
Aku juga berhenti mencarimu diantara daun daun yang jatuh
Karena kau memang  tak disana

Mungkinkah kamu ada diantara rintik hujan
Atau ada dibalik empun pagi,
kenapa begitu jauh mencarimu
Padahal engkau sudah teramat dekat denganku
Yaah engaku ada ditiap doa doa panjangku
Akan selalu ada disana

Berjuanglah, aku disini menantimu dalam taat padaNya.
Menantimu meniti surga bersama
Segenap hidupku ada ditiap ridhomu
Segenap bahagiaku ada ditiap bahagiamu
Aku hanya berharap dengan bersamamu, aku bisa semakin mencintaiNya


Ruang Hati, 6 Desember 2015
Irna Yuliani

Rabu, 04 November 2015

Seperti Apa

Seperti apa.....
Seperti apa engkau mencintaiNya
Seperti sujud sujud panjangku diheningnya malam
Seperti apa engkau menjaga diri
Seperti rasa yang tak kubiarkan berlabuh sebelum waktunya

Seperti apa....
Seperti apa engkau memintaku padaNya
Seperti tengadah doa yang tak lelah kuucap
Seperti apa engkau memperbaiki diri
Seperti aku berlari menembus dinginnya subuh menuju mesjid

Seperti apa engkau kutunggu
Seperti sabarnya Siti Hajar menanti kehadiran Ismail
Seperti apa engkau akan datang
Seperti Ali meminta Fatimah kepada Rasulullah

Seperti apa akhlakmu sekarang
Seperti akhlak seseorang yang kamu lihat di depan cermin

Lalu....
Seperti apa kita akan bertemu
Seperti doa doa kita yang telah bertemu lebih dahulu
Indah....

Dari hatiku kepada hatimu
Samarinda, 4 Nov 2015

Salam
Irna Yuliani





Minggu, 25 Oktober 2015

Cukup Kami

Sepertinya mendung, tapi tak berarti hujan

Aku lupa itu hari apa, sudah sekitar tiga minggu yang lalu, yang kuingat pagi itu tampak mendung, matahari sungguh enggan menyapaku, mungkin akan turun hujan, pikirku. Setelah sekian lama tak mencium aroma tanah yang basah karena hujan, mungkinkah hari ini aku akan mencium aroma itu, semoga harapku dalam hati waktu itu.

Tiba tiba harapan itu menjadi sirna saat temanku berkomentar dan mengarahkan pandanganku ke atap rumah rumah warga, apakah kamu bisa melihat atap atap rumah mereka. Kutajamkan penglihatanku, yaa atap atap rumah warga tak terlihat sama sekali, tapi saya masih belum mengerti. "Ini bukan mendung na, ini kabut asap, kalo mendung masa awan nya bisa sampai menutupi atap rumah. Sedikit tersentak aku dibuatnya, kuarahkan lagi pandanganku, jauh kesegala penjuru, dan yaaa ini memang bukan mendung ini kabut asap.

Tiba tiba terasa sesak, pemandangan diluar terlihat makin menyeramkan, sepertinya negara api sudah menyerang. Teringat kawan kecilku diluar sana, apa kabarnya dia. Ia yang kadang hanya berganti baju seragam sekolah, celana sekolahnya yang berwarna merah pudar masih ia pakai menyusuri jalan jalan kota kecil ini, menjajakan kue hasil buatan ibunya.

Pernah suatu ketika aku bertemu dengannya disebuah pelataran mesjid selepas Isya, ia sedang beristirahat, kupandangi dagangannya yang masih banyak. "Kenapa masih jualan sampai jam segini de, tanyaku padanya".  Ia tak langsung menjawab, malah sibuk melihat sekeliling apakah ada yang mau membeli dagangannya, baru beberapa menit kemudian ia menjawab, "Aku butuh uang untuk beli buku paket di sekolah kak" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari sekitar, kalau kalau ada yang mau membeli dagangannya. 

Usianya masih sangat belia, ketika ia harus mencicipi kerja keras. Sebelum meninggalkannya, kuborong semua dagangannya, dan menyuruhnya untuk segera pulang, ini sudah larut malam untuk anak seusianya yang masih diluar rumah sendirian.

Semenjak kabut asap melanda kota kecil ini aku jarang melihatnya, kadang aku sengaja menunggunya lama dipelataran mesjid tempat ia sering beristirahat sejenak, tapi tak kunjung juga kelihatan. Hingga beberapa hari yang lalu aku melihatnya berjualan di depan mesjid, lalu kuhampiri ia. Wajah cerianya tak terlihat, tertutupi masker tapi dari tatapan matanya ia tampak terlihat sangat letih.

Ternyata hari ini adalah hari pertamanya kembali berjualan,  ibunya melarang ia keluar rumah selepas sekolah, selama dua minggu ia tak dapat tambahan uang untuk membeli buku sekolah, masih ada beberapa buku yang harus ia beli, ia hanya berjualan di rumahnya, hasil jualannya pun hanya cukup untuk makan sehari hari.

Negeri ini menjadi putih, bahkan menjadi kuning, mungkin dianggap sepele oleh mereka yang masih bisa bebas berjalan jalan menghirup udara tanpa khawatir akan terjadi sesuatu. Tapi lain halnya untuk mereka yang mencari rezeki di jalanan, mengucurkan keringat di udara terbuka. Kadang mereka harus berhenti karena kondisi udara yang makin memburuk, lalu siapa yang peduli, mereka kecil tak terlihat.

Tapi mereka ada, mereka juga hidup di negeri ini, kabut asap yang melanda sudah menjadi neraka dunia, membunuh perlahan, bukan hanya menjadikan paru paru kita lama kelamaan menjadi tak berfungsi dengan baik, tapi juga mengganggu sebagian dari mereka yang mencari rezeki di luar sana.

Lalu mereka yang berdasi, bekerja di balik meja di ruangan ber AC apakah peduli ? Peduli pada negeri yang menjadi putih, mungkin jika negera api menyerang gedung gedung megah mereka, baru mereka tersadar bahwa negara api sudah menyerang kami lebih dahulu.

Semoga hanya kami yang merasakannya, cukup hanya kami.

Samarinda, 25 Oktober 2015
Salam Santun

@irnayuliani_

Kamis, 22 Oktober 2015

Rasamu

Setelah hari itu aku baru tau, tak ada yang bisa menyimpan rapi rasanya, serapi kamu menyimpannya.Tapi rasamu tak bisa kamu sembunyikan dariku, aku tau kapan rindu diam diam menyapamu.

Aku juga tau kenapa kamu dengan sangat rapi menyimpan semuanya, kamu sesungguhnya takut membuat resah seseorang, iyakan? 

Seperti lelah yang selalu berusaha kamu sembunyikan, seperti sedih yang selalu kamu rahasiakan, tapi tak bisa kamu sembunyikan dariku.

Aku tau kamu hanya ingin berbagi bahagia, aku tau kamu hanya ingin memastikan ia baik baik saja, tanpa harus menanyakan banyak hal. Ia yang selalu diam diam kamu rindukan. Ia yang kini dibatasi ruang dan waktu untuk kamu pastikan baik baik saja.

Kamu yang tak pernah absen mendoakannya, aku tau itu. Kamu yang ingin sekali bertemu tapi tak memintanya untuk bertemu, kamu tak ingin mengganggu kesibukannya, padahal jika kamu meminta untuk bertemu ia pasti akan segera datang.

Kamu, ibu luar biasa yang aku punya...

Sabtu, 26 September 2015

Bulan dan Bintang

"Taukah kamu kenapa hatiku memilihmu, karena hatimu mencintaiNya, itu cukup bagiku"

Pertemuan yang singkat bukanlah halangan untuk hati memilih, perkenalan yang lama juga tak selamanya bisa jadi jaminan mantapnya hati untuk memilih. Allah sudah mengatur pertemuan bulan dan bintang demikian indah. Pertemuan yang cukup singkat, tapi cukup membuat bulan pulang dengan hati yang berbunga. Ada yang telah menyentuh hatinya, tak lain adalah bintang, lelaki sederhana yang taat pada TuhanNya, santun tutur katanya, dan sungguh lembut hatinya.

Bulan, perempuan periang, yang senantiasa menjaga dirinya agar tetap suci dan mulia di hadapan TuhanNya. Usianya sudah sangat matang untuk segera dipinang oleh seorang pangeran soleh. Tapi entah apa yang dicarinya, beberapa list nama telah diajukan keluarga dan sahabatnya, hingga ia sudah menjalani taaruf beberapa kali, tapi tak juga hatinya mampu memilih.

Hingga kemudian ia bertemu bintang, tak banyak yang diketahui bulan tentang bintang, hanya ada satu hal yang memberatkan hatinya untuk diam memandang pada satu titik fokus, bulan suka cara bintang mencintai Tuhannya. 

Ingin hati bulan memilihnya, tapi apa daya ia seperti perempuan kebanyakan, yang lebih memilih memendam perasaannya, lebih memilih mengutarakan kepada Tuhannya. Bulan tau ia telah jatuh cinta, tapi ia tetap akan selalu menjaga diri dan hatinya untuk seseorang yang kelak ditakdirkan halal untuknya.

Tapi, semua tiba tiba membuat hatinya resah, ketika seorang sahabatnya meminta ia untuk taaruf dengan adiknya. Sungguh berat hati bulan mengatakan ia pada waktu itu, karena hatinya telah memilih. Bulan hanyalah menghormati niatan baik sahabatnya, tooh ini juga baru perkenalan, kan belum tentu lanjut, demikian hati bulan berbisik.

Hati bulan telah memilih bintang, namanya telah mengisi tiap bait doa di hening malamnya, menaruh harapan kepada RabbNya, semoga bintang adalah jodohnya.

Allah, sampaikan pada bintang bahwa ada yang diam diam menjaga hati untuknya, dialah bulan.

Rabu, 23 September 2015

Titik Fokus

Saya terdiam memandang pada satu titik fokus,
Sejak pertemuan kita beberapa waktu yang lalu
Saya tak pernah melihatmu di toko buku ini,
Mungkin itu pertemuan kita pertama kali.

Hari berikutnya dan saya masih pada titik fokus yang sama
Itu pertemuan kita yang kedua kalinya.
Saat aku harus buru buru meninggalkan toko buku itu
Karena sebuah janji dengan seorang teman
Tapi saya tau,  kita akan bertemu kembali.

Ini pertemuan kita yang ketiga kalinya, setelah seminggu berlalu
Saya masih pada titik fokus yang sama.
Terdiam sejenak dalam waktu yang lama.
Mungkin buku buku di rak itu mulai cemburu.

Kamu datang begitu pagi,
Letak buku bukunya masih sama, sewaktu kita tinggalkan kemarin
Sama hal nya dengan titik fokusku
Yang masih nyaman pada satu arah.

Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir
Radarku tak cukup kuat menangkap sinyal
Kapan pertemuan kita selanjutnya
Yang saya tau, saya sudah tak lagi pada titik fokus yang sama
Bukan karena ini pertemuan terakhir
Tapi karena tuhanku menginginkan saya
Untuk tidak lebih lama disana.

Saya hanya berharap semog kita bisa bertemu kembali.

Toko Buku, 23 September 2015

Minggu, 14 Juni 2015

Rasa Yang Tiba Tiba Datang

Kupikir rasa itu sudah pergi jauh, kupikir rasa itu sudah kumasukkan dalam adonan yang biasa biasa saja. Tiba tiba tanganku menjadi dingin, tiba tiba panik, tiba tiba aliran darah terasa sangat cepat mengalir, jantung serasa bekerja lebih keras dari biasanya, jalur nafas terasa mengalami gangguan, hingga harus berkali kali menarik nafas panjang. Ahhhh, rasa itu tiba tiba datang lagi.....

KepadaMU pemilik hati, aku tak menginginkan rasa itu datang lagi menyapa sekarang, tapi hatiku terbuka lebar, aku tak mampu menahannya. Airmata akhirnya tak tertahankan, diatas sajalah kutuangkan semua isi hati, hati yang tiba tiba merasakan sesuatu.

Untuk kesekian kalinya kutarik nafas panjang, mulut tak henti hentinya berisitiqfar, semoga hati mampu mengeluarkan rasa yang tiba tiba datang. Rasa itu belum seharusnya jadi milikku.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, bukan aku membencimu, tapi belum waktunya kamu menyapa hatiku. Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, aku bukannya tak menginginkanmu, tapi kamu belum pantas untuk kumiliki, tuhanku tidak menyukainya.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, akan kubiarkan saat ini kamu kembali pergi. Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, jika saatnya telah tiba, kamu akan indah bersemi di dalam hatiku, akan kujaga hingga aku kembali pulang menghadap Rabbku.

Hingga waktunya tiba, izin kan aku selalu meminta kepadaNya agar rasa yang kelak datang ditujukan kepada seseorang yang halal bagiku. Seseorang yang dihatinya ada rasa yang sama untukku, seseorang yang begitu indah akhlaknya, seseorang yang saat ini juga sedang menjaga hatinya dari rasa yang tiba tiba datang, rasa yang belum waktunya ada dihatiku dan hatinya.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, datanglah diwaktu yang tepat, agar rasa itu jadi pahala buatku dan buatnya.

Ruang Hati, 20.30 Wita

Minggu, 10 Mei 2015

Kapan Nikah

Akhir akhir ini orang orang sering sekali melontarkan pertanyaan yang sama kepada saya, mau itu keluarga, teman teman sekolah, teman kuliah, rekan kerja, bahkan  orang  yang belum lama kenal sekalipun, “Irna Kapan Nikah?”, sebuah pertanyaan yang menurut saya itu susah untuk saya jawab sekarang ini, kata tanya yang menunjukkan waktu, dan tentunya harus dijawab dengan jawaban yang menunjukan waktu, besok, lusa, seminggu kemudian, bulan depan, tahun depan, dan untuk saat ini saya belum memilki jawaban jawaban itu. Akhirnya pertanyaan pertanyaan mereka kujawab dengan jawaban yang sudah sangat bijak menurut saya, “Sekarang waktunya masih menjadi rahasia Allah, demikian pula jodohnya, mohon doakan semoga disegerakan bertemu jodohnya, yang baik buat dunia dan akhirat saya”.

Sebenernya melalui tulisan ini saya pengen sampaikan kepada kalian yang hobby nanya “kapan nikah” kepada teman atau keluarga yang belum nikah. Mulailah mengurangi kebiasaan teman-teman bertanya demikian, karena teman kita belum tentu punya jawabannya, dan itu menurut saya pertanyaan yang agak mengusik batin (Secara Umum), terutama kepada yang umurnya sudah sangat matang, meski sesungguhnya pernikahan itu lebih kepada kesiapan kita untuk menjalaninya.

“Ehh, Temen SD mu itu sudah lamaran tadi sore, minggu depan si A nikah loh, trus katanya bulan depan anak bu salmah mau dilamar juga, kamu kapan? Semua pada melangkahi kamu.

Naah, saya pengen nyampein buat teman teman yang sering dapat omongan kayak kini, jujur aja hati kecil kita mulai agak risih kalo keseringan di omongin kayak ginikan. So, pernikahan itu bukan perlombaan, jadi gak usah buru buru nikah hanya karena teman temen kita sudah pada nikah, trus kita sudah mulai bosan di tanya “Kapan Nikah”.

Pernikahan memang adalah ibadah, mengerjakan separuh agama, tapi dengan syarat bahwa dengan pernikahan ini kita lebih mencintai Allah, dengan pernikahan kita menjadi pribadi yang lebih baik, yang kemarin cuman rajin ibadah wajib, setelah nikah ibadah sunnah juga jalan.

Nah, untuk itu kita mesti memilih pasangan yang dengannya akan saling menguatkan di jalanNya. Mereka yang memutuskan belum menikah, tentunya memiliki alasan masing-masing, dan kebanyakan dari kita jarang menanyakan alasan kenapa belum nikah, dan hanya sedikit yang mau membantu mencarikan jodoh kawan kawannya. Heheheh…… *curcol
+ : Arni mau nikah lohhh
X : Sama Siapa?
+ : Sama Pacarnya
X : Oohhh….
+ : Makanya kamu cari pacar sanaaa, kalo gak punya pacar susah nikahnya…
X : Gue Mengerutkan Kening, --_--))???

Obrolan obralan seperti ini tak jarang kita temui, dan izinkan saya berbagi sekedar mengingatkan diri sendiri. Okey, sahabat semua tentu sudah pada tau kalo di ajaran agama Islam, pacaran itu tidak boleh, kenapa? Yang karena ada zina di dalamnya, zina itu di anggapan masyarakat awam hanyalah jika melakukan hubungan suami istri, tapi zina itu banyak, zina mata, zina telinga, zina hati dll, apalagi yang sudah sering jalan berdua, sudah mulai pegangan tangan, tatap tatapan, padahal orang yang bersama kita itu belum tentu juga jodoh kita. Tau gak sih, betapa Allah tuh sayang sama kita yang perempuan, sesungguhya ayat yang melarang kita mendekati zina di Al-Qur’an itu adalah untuk melindung kita, kaum perempuan, tapi kita gak pernah mau mematuhinya, nanti kalo ada kejadian luar biasa, baru deeehh nangis nangis bombay, yaah penyesalan memang selalu dibelakang. Menikah itu memang ibadah, tapi menikah itu sama sekali gak menghapuskan dosa. Yaa  memang setelah nikah nilainya jadi ibadah, tapi tetap aja dosa zina waktu masih pacaran yaahh gak bakal kehapus kalo kita gak minta ampun kepada Allah atas dosa zina kita.

Saya masih lebih bangga kepada teman teman yang belum nikah tapi mereka masih taat pada Allah, menanti yang halal dengan tetap memantaskan diri. Daripada mereka yang wara wiri pamer dosa berduaan dengan pacarnya. Astagfirullah…

Sahabat sekalian, sungguh aku tak lebih baik dari kalian atau siapapun, tulisan ini hanya salah satu bentuk cinta dan sayang saya kepada sahabat sekalian yang belum tergerak hatinya untuk taat kepada Allah dalam menjemput jodoh. Sebagaimana janjii Allah, laki laki baik baik untuk perempuan baik-baik, dan perempuan baik baik untuk laki laki baik baik, semoga iman dihati masih terus percaya akan janjiNya.

Allah adalah sutradara terbaik, kita hanya butuh meluruskan niat dan tetap ikhtiar, percaya padaNya bahwa jodoh terbaik akan datang di waktu yang terbaik.

Selasa, 21 April 2015

Lukisan Langit (Cerpen)

Hampir tiap pekan kusempatkan mengunjungi salah satu toko buku yang ada di dekat pelabuhan. Toko buku ini termasuk toko buku tertua yang ada di kota ini. Aku suka berkunjung ke sana, koleksi buku buku lamanya lengkap, disamping harganya juga lebih murah dibanding toko buku lainnya.

Siang yang begitu terik, aku menghampiri penjual minuman dingin yang ada di seberang jalan, kemudian buru buru menghabiskannya. Setelah botol minumanku benar benar kosong, aku segera berjalan menuju toko buku langgananku. Toko buku ini meski tak dilengkapi dengan pendingin ruangan, tetap terasa sejuk, memang sudah tak seramai beberapa tahun yang lalu, setelah toko toko buku lainnya mulai berdiri dimana-mana. Toko ini pun tak sebesar toko buku lainnya, yang sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan, sofa untuk membaca, dan fasilitas untuk mencari buku yang kita inginkan.

Tenggelam dengan buku buku yang berjajar rapi, aku sudah tak memperdulikan cuaca terik di luar sana, bahkan mungkin sekelilingku. Fokusku hanya pada buku buku yang ada di depanku, hingga mata ini kemudian terhenti pada satu buku “Lukisan Langit”, demikian judul bukunya. Tiba tiba seseorang muncul dan berkata, “mungkin kamu bagian dari lukisan itu”, sambil tersenyum ia kemudian pergi dan aku masih terdiam, berusaha mencerna apa maksud dari ucapan orang tadi. Aku belum menemukan maksud orang tadi berkata demikian padaku, ketika aku harus buru buru meninggalkan toko buku ini, karena ternyata aku ada janji bertemu dengan seorang teman.

Sudah dua pekan aku tak berkunjung ke toko buku langgananku, aku disibukkan dengan pekerjaan kantor yang begitu padat di akhir tahun. Hari ini aku pulang paling belakang di banding pegawai lainnya, aku memilih merampungkan pekerjaan hari ini, di perjalanan pulang hujan tiba tiba turun, memaksaku untuk berhenti di sebuah café kecil tak jauh dari kantorku. Aku memesan kopi hangat, sekedar teman menikmati hujan. Tiba tiba seseorang datang menghampiriku, dan kemudian bertanya, “bukunya sudah dibaca?”, aku mengerutkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan orang ini. Tanpa menunggu jawabanku, ia pergi begitu saja. Lama kemudian aku baru tersadar, aku baru ingat pernah bertemu dengannya di toko buku. Aku jadi penasaran dengan buku itu. Keesokan harinya aku ke toko buku, dan membelinya. Aku tak sempat membaca buku itu sampai selesai, karena beberapa pekerjaan kantor yang masih belum selesai dan kejar deadline. Setelah lembur berhari hari akhirnya semua pekerjaan kantor pun rampung sebelum pergantian tahun.

1 Januari aku memilih untuk istirahat di rumah dibanding keluar bersama teman teman merayakan tahun baru. Sore harinya, telefon bordering membangunkanku dari tidur siang yang panjang, ternyata ayah. Percakapanku ditelfon sore itu kemudian menghantarkanku pada sebuah moment yang sangat penting dalam hidupku 3 bulan kemudian, yaah itu adalah hari pernikahanku. Pernikahanku dengan seseorang bernama angkasa, ia biasa di panggil Asa. Lelaki yang aku temui pertama kali di toko buku, lelaki yang kini menjadikanku lukisan langitnya. Buku yang kubaca tiga bulan yang lalu, baru kutau bahwa suamikulah penulisnya setelah seminggu pernikahan kami. Aku kembali membaca buku tersebut hingga selesai, dan ditutup dengan derai tangis penuh haru. Buku itu sesungguhnya menuliskan tentang diriku, tentang harapannya menjadikanku lukisan langitnya. Aku begitu kagum padanya, ia begitu pandai menjaga hatinya, bahkan di dalam buku, tak ada yang mampu menebak bahwa sesungguhnya tokoh perempuan dalam buku ini ada dalam dunia nyata, dan itu aku. Terima kasih telah menjaga dirimu dan hatimu untukku, terima kasih kamu menjemputku dalam ketaatan padaNya. Aku akan selalu menjadi lukisan langitmu, Angkasaku.