Do What You Love, Love What You Do

Jumat, 28 November 2014

Berkawan Kabut di Puncak Biru



Akhir Oktober kemarin seorang teman mengajak  saya hiking ke salah satu puncak tertinggi di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, jadwal hikingnya di awal November. Dapat ajakan hiking itu senengnya gak ketulungan, terlebih lagi yang open trip ini adalah teman temen dari komunitas Akhwat Traveler, yang menandakan “Girls Only” yang boleh bergabung, perjalanannya akan steriiiilll dong yaaaa, hehheee……

Mendekati jadwal yang telah di tentukan, ternyata hiking nya ditunda hingga dua minggu ke depan, meski sedikit kecewa, tapi masih bersyukur hanya ditunda, tidak di batalkan. Tapi cerita lain menyambut, hari yang telah ditentukan oleh teman-teman komunitas ternyata berbenturan dengan beberapa agenda saya, ini bener bener menguras otak saya untuk berfikir keras, dan Alhamdulillah Allah merestui saya melihat salah satu tempat lain di belahan buminya, beberapa agenda saya ternyata bisa saya tinggalkan, dan yang lainnya saya bisa menyusul, maka jadilah trip ke Puncak Biru saya mulai bersama teman-teman dari Komunitas Akhwat Traveler.

Sehari sebelum keberangkatan, Jadwal hiking rilis, ini dia…………………..

02.00 – 03.00      : Kumpul di Mesjid Simpang Empat Jl.Suryanata
03.00 – 04.00      : Riding woles ke penyebrangan Fery
04.00 – 04.10      : Menyebrang ke Tenggarong
04.10 – 04.45      : Riding ke Mesjid Bukit Biru
04.45 – 05.15      : Break Sholat Subhu
05.15 – 05.30      : Riding ke Spot Awal Treking
05.30 – 06.30      : Trekking ke Puncak Jayawijaya, eh Bukit Bitu wkwkwkw
06.30 – 07.30      : Kegiatan Bebas, bertanggung jawab menikmati alam di puncak
07.30 – 08.30      : Yuk turun Bukit
08.30 – 09.00      : Riding ke lokasi P3K (Pertolongan Pertama Pada Kelaparan)
09.00 – 10.00      : Brunch bin latr breakfast ^_^
10.00 – 11.00      : City Explore dan foto - foto di tempat tempat yang lagi hitz di Tenggarong
11.00 – 12. 30     : Balikan Cuuyy…..

Pukul dua lewat lewat dikit, saya dan teman saya, namanya Lina, teman yang ngajakin saya gabung di trip ini sudah tiba di Mesjid simpangan Suryanata, tempat kita meeting point sebelum berangkat. Satu persatu teman teman komunitas sudah mulai berdatangan, meski ada satu dua orang yang tiba tiba cancel. Menjelang pukul tiga semua sudah datang, total kami ada sebelas orang, dan sebelum memulai perjalanan, doa pun mengalun indah di dalam hati hati kami, berharap semoga Allah memberikan perlindungan dan kelancaran dalam perjalanan kami.

Bismillahirrahmanirrahim…….
Kompak terucap mengawali perjalanan kami. Memasuki wilayah Tenggarong, gerimis menyambut kami, jalanan tampak basah, seperti baru saya hujan deras. Pukul 03.30 kami tiba di dermaga penyebrangan, lebih cepat dari jadwal. Allah memang sudah merestui perjalanan kami, karena biasanya di jam jam seperti itu tidak ada lagi perahu yang akan menyebrang, ohhh yaaa kami menyebrangnya menggunakan perahu atau orang sini sebut klotok, kalo  menyebrang menggunakan Fery bukanya pagi hari. Info dari pemilik perahu, sebenarnya perahu perahu disini juga baru beroprasi di pagi hari, kebetulan saja waktu itu ia sedang menyandarkan kapalnya di Dermaga, dan kebetulan banget pas kami nyampe di Dermaga, saya yakin banget ada campur tangan Allah di dalamnya yang kemudian memudahkan perjalanan kami. Biaya penyebrangan pun seharga 50 ribu untuk sebuah sepeda motor, kami menyebrang dengan kendaraan soalnya. Udara dingin dini hari di tambah hujan yang sepertinya makin deras memberi sensasi tersendiri di perjalanan kali ini, dibutuhkan waktu 10 – 15 menit untuk sampai ke seberang.

Pukul 04.30 kami tiba di mesjid dekat pintu gerbang pendakian menuju puncak biru. Setelah menunaikan sholat Subhu, pendakian pun di mulai, meski sempat digejutkan dengan longsor yang menutupi akses menuju puncak, yang sempat membuat kami berfikir untuk mencari akses lain, tetapi akhirnya setelah berusaha memutar pandangan ke sekeliling, menembus gelapnya malam, akhirnya kami menemukan jalan setapak tidak jauh dari lokasi longsor, ternyata jalan setapak itu merupakan jalan menuju puncak.

Pendakian dimulai, jalanan sedikit licin setelah di guyur hujan. Tapi semua itu tak mengurangi semangat kami untuk sampai ke puncak, kami ingin segera sampai di puncak sebelum matahari keluar dari peraduanya. Pukul 06.00 teenggg kami sampai dipuncak, kami di sambut kabut tebal, Tenggarong dari atas terlihat samar-samar. Kami menunggu hingga pukul 06.30 dan matahari sepertinya enggan menampakkan diri, kabut makin tebal jadilah kami hanya berkawan kabut. Angan angan akan menemukan saaanraaiiss akhirnya pupus sudah. Tapi tak apa berkawan kabut juga tak kalah cantik….

 Puncak Biru With Komunitas Akwat Traveler

Tenggarong adalah nama kota di Kabupaten Kutai Kartanegara, untuk mencapai Tenggarong membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari Kota Samarinda. Kota Tenggarong sendiri di pisahkan oleh sebuah sungai, pusat kotanya sendiri ada di seberang, jadi untuk sampai ke sana kita harus menyebrang menggunakan perahu atau fery yang disediakan oleh Dinas Perhubungan Kutai Kartanegara. Dulunya ada jembatan yang menghubungan wilayah Tenggarong Kota dan Tenggarong Seberang, akan tetapi beberapa tahun lalu, jembatan ini rubuh, dan tragedi ini pun memakan banyak korban. Jembatan penyebrangan itu sementara dalam pembangunan kembali.

Kesan saya pertama kali ke Kota Tenggarong, kota kecil ini bersih, tatanan kotanya lumayan bagus. Jika berkesampatan saya masih ingin bisa mengijakan kaki di kota kecil ini, saya belum main ke Museum Kayu, dan juga Pulau Kumala yang terletak di tengah tengah sungai. Next Timee daah, semoga Allah meridhoi, Aamiiin.


My Super Dad



Menjadi anak gadis sulung di keluarga membuat saya sangat dekat dengan bapak. Jika di waktu kecil, anak anak lainnya mendengarkan dongeng dari ibunya, saya mendengarkan semua dongeng dari bapak. Jika hujan tiba kita sering mengabiskan waktu di dapur membuat sesuatu atau ngobrol sampai lupa waktu di teras rumah sambil menikmati tetes demi tetes air hujan.

Saya percaya setiap orang memiliki ayah terbaik, demikian pula saya. Ia bukanlah seorang lelaki berjas mahal, berdasi, menggunakan mobil mewah, atau orang terkenal. Ia hanya seorang lelaki yang setiap subhu membangunkan anak gadisnya untuk sholat subhu, ia yang tanpa sungkan mencuci pakaiannya sendiri, atau menyiapkan sarapan untuk anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa. Ia yang hampir tiap waktu menanyakan kabar anak gadisnya di rantauan, ia yang menyimpan berjuta rindu di hatinya.

Ia bukanlah Ayah yang sempurna, tapi ia selalu berusaha memberi yang terbaik untuk keluarganya terutama untuk anak gadisnya. Ia hanya seorang lelaki biasa yang menyimpan dukanya sendiri, dan hanya ingin berbagi suka.

You Know Dad ?
Bagi saya kamu adalah ayah yang sempurna, lelaki luar biasa yang mendampingku hingga detik ini.

Semoga Allah memanjangkan umurmu, memberi kesehatan dan mengizinkanku merawatmu di hari tuamu kelak. Semoga kebahagiaan senantiasa menyertaimu, semoga Allah memberimu keselamatan di Dunia dan Akhirat. Aamiinn

Salam Hormat dan Rinduku…
I Love You, Bapaakkk….

Jumat, 14 November 2014

Apa Itu Rindu



Apa itu rindu?
Mawar bermekaran disapa mentari
Jawab pagi kepadaku

Apa itu rindu?
Bening air menghapus peluh
Jawab siang kepadaku

Apa itu rindu?
Pelukan bulan di redupnya bintang
Jawab malam kepadaku

Apa itu rindu?
Kemilau pelangi diantara rintik rintik
Jawab hujan kepadaku

Apa itu rindu?
Ombak yang saling berkejar kejaran
Jawab laut kepadaku

Apa itu rindu?
Nyayian burung pipit di dahan pohon
Jawab gunung kepadaku

Rindu….
Kau tak berwujud namun berasa
Kau tak terlihat namun begitu indah
Sebagian takut merasakanmu
Sebagiannya lagi senang bersamamu

Seperti mentari yang senang melihat mawar bermekaran
Seperti siang yang berterima kasih pada sejuknya air penghapus dahaga
Seperti malam yang jatuh cinta pada purnama
Seperti hujan yang menanti pelangi
Seperti laut yang menyaksikan ombak berkejaran
Seperti gunung yang terbuai oleh nyayian alam

Demikian rindu ada…
Ada dalam hati hati kita

Apa itu rindu?
Isak tangis diantara untaian doa
Jawab hatiku


By.Irna Yuliani

Sabtu, 08 November 2014

Aku Tak Pernah Tau



Aku tak pernah tau kapan kematian itu menjemput
Yang kutau, aku telah hidup bertahun tahun lamanya
Aku seringkali menemukan orang yang hanya datang jika ia butuh
Tapi ada yang setia menemaniku, dalam tawa dan tangisku
Aku belum pernah menemukan cinta yang begitu indah
Selain cinta yang ia berikan padaku

Aku tak pernah tau apa yang kan terjadi esok
Yang kutau bahwa setiap saat akan selalu ada harapan baru
Hatiku seringkali digerogoti penyakit penyakit aneh
Tapi Ia dengan tulus menyediakan obatnya
Aku belum pernah menemukan ketulusan
Seperti ketulusan yang ia punya

Aku tak pernah tau apa yang akan ia tulis di bukuku
Yang kutau ia telah memberikan dua pilihan diakhirnya, baik atau buruk
Penaku seringkali membuat buku itu kotor
Tapi ia begitu cepat menghapusnya, dan membuat buku itu bersih kembali
Aku belum pernah menemukan kemulian
Seperti kemuliaan yang ia punya

Aku tak pernah tau kapan ia memberiku kejutan
Yang kutau ia sangat mencintaiku dengan caranya
Aku seringkali mengecewakannya
Tapi ia malah tersenyum dan memelukku
Aku belum pernah menemukan kebaikan
Seperti kebaikan yang ia punya

Aku tak pernah tau sudah seberapa banyak permintaanku padanya
Yang kutau hanyalah meminta dan meminta
Aku dan semua permintaanku sama sekali tak membuatnya marah
Ia malah suka jika aku selalu meminta
Aku belum pernah menemukan kelapangan
Seperti kelapangan yang ia beri

Dibalik ketidaktahuanku, aku tahu
Ada yang mencintaiku dengan tulus
Ada yang begitu setia menemaniku
Ada yang sangat merindukanku

Tapi, aku banyak tidak tau tentangnya

Tapi ada satu hal yang aku tau
Aku tau kalo Ia tau,
Bahwa aku sangat mencintainya

Dialah Allah, Tuhanku

By. Irna Yuliani