Do What You Love, Love What You Do

Minggu, 14 Juni 2015

Rasa Yang Tiba Tiba Datang

Kupikir rasa itu sudah pergi jauh, kupikir rasa itu sudah kumasukkan dalam adonan yang biasa biasa saja. Tiba tiba tanganku menjadi dingin, tiba tiba panik, tiba tiba aliran darah terasa sangat cepat mengalir, jantung serasa bekerja lebih keras dari biasanya, jalur nafas terasa mengalami gangguan, hingga harus berkali kali menarik nafas panjang. Ahhhh, rasa itu tiba tiba datang lagi.....

KepadaMU pemilik hati, aku tak menginginkan rasa itu datang lagi menyapa sekarang, tapi hatiku terbuka lebar, aku tak mampu menahannya. Airmata akhirnya tak tertahankan, diatas sajalah kutuangkan semua isi hati, hati yang tiba tiba merasakan sesuatu.

Untuk kesekian kalinya kutarik nafas panjang, mulut tak henti hentinya berisitiqfar, semoga hati mampu mengeluarkan rasa yang tiba tiba datang. Rasa itu belum seharusnya jadi milikku.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, bukan aku membencimu, tapi belum waktunya kamu menyapa hatiku. Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, aku bukannya tak menginginkanmu, tapi kamu belum pantas untuk kumiliki, tuhanku tidak menyukainya.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, akan kubiarkan saat ini kamu kembali pergi. Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, jika saatnya telah tiba, kamu akan indah bersemi di dalam hatiku, akan kujaga hingga aku kembali pulang menghadap Rabbku.

Hingga waktunya tiba, izin kan aku selalu meminta kepadaNya agar rasa yang kelak datang ditujukan kepada seseorang yang halal bagiku. Seseorang yang dihatinya ada rasa yang sama untukku, seseorang yang begitu indah akhlaknya, seseorang yang saat ini juga sedang menjaga hatinya dari rasa yang tiba tiba datang, rasa yang belum waktunya ada dihatiku dan hatinya.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, datanglah diwaktu yang tepat, agar rasa itu jadi pahala buatku dan buatnya.

Ruang Hati, 20.30 Wita

Jumat, 12 Juni 2015

Rindu

Di suatu senja, di penghujung bulan september ada rindu yang diam diam menyelinap menembus rongga  hati, entah dari mana datangnya.  Aku tak pernah bertanya seperti apa rindu itu berwujud, yang kutahu mungkin ia datang karena pertemuan yang sudah lama tak ada.

Angin senja itu seperti ikut menyapa, menemani sepiku, menemani tubuhku yang begitu damai menikmati senja. Ada yang aku rindukan kala itu, ia teman masa kecilku, dulu sewaktu kecil aku senang menikmati hari berdua dengan nya. Hingga kemudian aku beranjak dewasa, terkadang aku melupakannya, bahkan kadang tak menginginkan kehadirannya, beginikah rasanya menjadi dewasa. Rasanya ingin menjadi anak kecil saja, tapi demikianlah siklus hidup, ketetapan ilahi kepada semua makhluknya yang hidup.

Langit mulai merona indah, memadukan warna kuning keemasan dengan langit biru, sebentar lagi matahari mengucap salam perpisahan, semoga esok kita bertemu kembali. Senja adalah lukisan alam yang begitu menakjubkan, meski demikian saya tetap menyimpan satu rindu untuk sebuah pertemuan di kala senja esok akan tiba.

Entah sudah berapa lama kita tak bertemu, aku benar benar menanti kehadiranmu, aku rindu menikmati hari bersamamu, menikmati senja bersamamu, walau terkadang aku sering menyalahkanmu.

Allah selalu menyimpan cerita indah di tiap pertemuan kita. Beberapa waktu lalu engkau datang, tapi aku sama sekali tak menghiraukanmu, aku sibuk dengan duniaku, mengucap syukur karena Allah telah izinkan kamu datang, aku pun lupa.

Engkau tentunya tau apa yang membuatku rindu padamu, yaahhh karena diakhir pertemuan kita engkau terkadang memberikan hadiah indah untukku, hadiah dengan beraneka macam warna, hadiah itu adalah pelangi.

Demikianlah saya merindukanmu, hujan.

Semoga kita bertemu di senja esok hari.....

Minggu, 10 Mei 2015

Kapan Nikah

Akhir akhir ini orang orang sering sekali melontarkan pertanyaan yang sama kepada saya, mau itu keluarga, teman teman sekolah, teman kuliah, rekan kerja, bahkan  orang  yang belum lama kenal sekalipun, “Irna Kapan Nikah?”, sebuah pertanyaan yang menurut saya itu susah untuk saya jawab sekarang ini, kata tanya yang menunjukkan waktu, dan tentunya harus dijawab dengan jawaban yang menunjukan waktu, besok, lusa, seminggu kemudian, bulan depan, tahun depan, dan untuk saat ini saya belum memilki jawaban jawaban itu. Akhirnya pertanyaan pertanyaan mereka kujawab dengan jawaban yang sudah sangat bijak menurut saya, “Sekarang waktunya masih menjadi rahasia Allah, demikian pula jodohnya, mohon doakan semoga disegerakan bertemu jodohnya, yang baik buat dunia dan akhirat saya”.

Sebenernya melalui tulisan ini saya pengen sampaikan kepada kalian yang hobby nanya “kapan nikah” kepada teman atau keluarga yang belum nikah. Mulailah mengurangi kebiasaan teman-teman bertanya demikian, karena teman kita belum tentu punya jawabannya, dan itu menurut saya pertanyaan yang agak mengusik batin (Secara Umum), terutama kepada yang umurnya sudah sangat matang, meski sesungguhnya pernikahan itu lebih kepada kesiapan kita untuk menjalaninya.

“Ehh, Temen SD mu itu sudah lamaran tadi sore, minggu depan si A nikah loh, trus katanya bulan depan anak bu salmah mau dilamar juga, kamu kapan? Semua pada melangkahi kamu.

Naah, saya pengen nyampein buat teman teman yang sering dapat omongan kayak kini, jujur aja hati kecil kita mulai agak risih kalo keseringan di omongin kayak ginikan. So, pernikahan itu bukan perlombaan, jadi gak usah buru buru nikah hanya karena teman temen kita sudah pada nikah, trus kita sudah mulai bosan di tanya “Kapan Nikah”.

Pernikahan memang adalah ibadah, mengerjakan separuh agama, tapi dengan syarat bahwa dengan pernikahan ini kita lebih mencintai Allah, dengan pernikahan kita menjadi pribadi yang lebih baik, yang kemarin cuman rajin ibadah wajib, setelah nikah ibadah sunnah juga jalan.

Nah, untuk itu kita mesti memilih pasangan yang dengannya akan saling menguatkan di jalanNya. Mereka yang memutuskan belum menikah, tentunya memiliki alasan masing-masing, dan kebanyakan dari kita jarang menanyakan alasan kenapa belum nikah, dan hanya sedikit yang mau membantu mencarikan jodoh kawan kawannya. Heheheh…… *curcol
+ : Arni mau nikah lohhh
X : Sama Siapa?
+ : Sama Pacarnya
X : Oohhh….
+ : Makanya kamu cari pacar sanaaa, kalo gak punya pacar susah nikahnya…
X : Gue Mengerutkan Kening, --_--))???

Obrolan obralan seperti ini tak jarang kita temui, dan izinkan saya berbagi sekedar mengingatkan diri sendiri. Okey, sahabat semua tentu sudah pada tau kalo di ajaran agama Islam, pacaran itu tidak boleh, kenapa? Yang karena ada zina di dalamnya, zina itu di anggapan masyarakat awam hanyalah jika melakukan hubungan suami istri, tapi zina itu banyak, zina mata, zina telinga, zina hati dll, apalagi yang sudah sering jalan berdua, sudah mulai pegangan tangan, tatap tatapan, padahal orang yang bersama kita itu belum tentu juga jodoh kita. Tau gak sih, betapa Allah tuh sayang sama kita yang perempuan, sesungguhya ayat yang melarang kita mendekati zina di Al-Qur’an itu adalah untuk melindung kita, kaum perempuan, tapi kita gak pernah mau mematuhinya, nanti kalo ada kejadian luar biasa, baru deeehh nangis nangis bombay, yaah penyesalan memang selalu dibelakang. Menikah itu memang ibadah, tapi menikah itu sama sekali gak menghapuskan dosa. Yaa  memang setelah nikah nilainya jadi ibadah, tapi tetap aja dosa zina waktu masih pacaran yaahh gak bakal kehapus kalo kita gak minta ampun kepada Allah atas dosa zina kita.

Saya masih lebih bangga kepada teman teman yang belum nikah tapi mereka masih taat pada Allah, menanti yang halal dengan tetap memantaskan diri. Daripada mereka yang wara wiri pamer dosa berduaan dengan pacarnya. Astagfirullah…

Sahabat sekalian, sungguh aku tak lebih baik dari kalian atau siapapun, tulisan ini hanya salah satu bentuk cinta dan sayang saya kepada sahabat sekalian yang belum tergerak hatinya untuk taat kepada Allah dalam menjemput jodoh. Sebagaimana janjii Allah, laki laki baik baik untuk perempuan baik-baik, dan perempuan baik baik untuk laki laki baik baik, semoga iman dihati masih terus percaya akan janjiNya.

Allah adalah sutradara terbaik, kita hanya butuh meluruskan niat dan tetap ikhtiar, percaya padaNya bahwa jodoh terbaik akan datang di waktu yang terbaik.

Selasa, 21 April 2015

Lukisan Langit (Cerpen)

Hampir tiap pekan kusempatkan mengunjungi salah satu toko buku yang ada di dekat pelabuhan. Toko buku ini termasuk toko buku tertua yang ada di kota ini. Aku suka berkunjung ke sana, koleksi buku buku lamanya lengkap, disamping harganya juga lebih murah dibanding toko buku lainnya.

Siang yang begitu terik, aku menghampiri penjual minuman dingin yang ada di seberang jalan, kemudian buru buru menghabiskannya. Setelah botol minumanku benar benar kosong, aku segera berjalan menuju toko buku langgananku. Toko buku ini meski tak dilengkapi dengan pendingin ruangan, tetap terasa sejuk, memang sudah tak seramai beberapa tahun yang lalu, setelah toko toko buku lainnya mulai berdiri dimana-mana. Toko ini pun tak sebesar toko buku lainnya, yang sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan, sofa untuk membaca, dan fasilitas untuk mencari buku yang kita inginkan.

Tenggelam dengan buku buku yang berjajar rapi, aku sudah tak memperdulikan cuaca terik di luar sana, bahkan mungkin sekelilingku. Fokusku hanya pada buku buku yang ada di depanku, hingga mata ini kemudian terhenti pada satu buku “Lukisan Langit”, demikian judul bukunya. Tiba tiba seseorang muncul dan berkata, “mungkin kamu bagian dari lukisan itu”, sambil tersenyum ia kemudian pergi dan aku masih terdiam, berusaha mencerna apa maksud dari ucapan orang tadi. Aku belum menemukan maksud orang tadi berkata demikian padaku, ketika aku harus buru buru meninggalkan toko buku ini, karena ternyata aku ada janji bertemu dengan seorang teman.

Sudah dua pekan aku tak berkunjung ke toko buku langgananku, aku disibukkan dengan pekerjaan kantor yang begitu padat di akhir tahun. Hari ini aku pulang paling belakang di banding pegawai lainnya, aku memilih merampungkan pekerjaan hari ini, di perjalanan pulang hujan tiba tiba turun, memaksaku untuk berhenti di sebuah café kecil tak jauh dari kantorku. Aku memesan kopi hangat, sekedar teman menikmati hujan. Tiba tiba seseorang datang menghampiriku, dan kemudian bertanya, “bukunya sudah dibaca?”, aku mengerutkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan orang ini. Tanpa menunggu jawabanku, ia pergi begitu saja. Lama kemudian aku baru tersadar, aku baru ingat pernah bertemu dengannya di toko buku. Aku jadi penasaran dengan buku itu. Keesokan harinya aku ke toko buku, dan membelinya. Aku tak sempat membaca buku itu sampai selesai, karena beberapa pekerjaan kantor yang masih belum selesai dan kejar deadline. Setelah lembur berhari hari akhirnya semua pekerjaan kantor pun rampung sebelum pergantian tahun.

1 Januari aku memilih untuk istirahat di rumah dibanding keluar bersama teman teman merayakan tahun baru. Sore harinya, telefon bordering membangunkanku dari tidur siang yang panjang, ternyata ayah. Percakapanku ditelfon sore itu kemudian menghantarkanku pada sebuah moment yang sangat penting dalam hidupku 3 bulan kemudian, yaah itu adalah hari pernikahanku. Pernikahanku dengan seseorang bernama angkasa, ia biasa di panggil Asa. Lelaki yang aku temui pertama kali di toko buku, lelaki yang kini menjadikanku lukisan langitnya. Buku yang kubaca tiga bulan yang lalu, baru kutau bahwa suamikulah penulisnya setelah seminggu pernikahan kami. Aku kembali membaca buku tersebut hingga selesai, dan ditutup dengan derai tangis penuh haru. Buku itu sesungguhnya menuliskan tentang diriku, tentang harapannya menjadikanku lukisan langitnya. Aku begitu kagum padanya, ia begitu pandai menjaga hatinya, bahkan di dalam buku, tak ada yang mampu menebak bahwa sesungguhnya tokoh perempuan dalam buku ini ada dalam dunia nyata, dan itu aku. Terima kasih telah menjaga dirimu dan hatimu untukku, terima kasih kamu menjemputku dalam ketaatan padaNya. Aku akan selalu menjadi lukisan langitmu, Angkasaku.




Selasa, 24 Maret 2015

Teman Dalam Penantianku



Aku masih disini
Berkawan doa
Dalam lirih suaraku, ku pinta kau padaNya

Aku masih disini
Memegang Al-Qur’an kecilku
Berharap kelak kau akan menemaniku membacanya

Aku masih disini
Dalam sujudku
Kunikmati hening, kusampaikan bahasa kalbu untukNya.
Kembali aku memintamu padaNya

Aku masih disini
Tertatih mengulang ulang hafalan qur’anku
Agar kelak bisa bersanding dengan hafalan qur’anmu

Aku masih disini
Sedang memuji dan memuja AsmaNya
Semoga kamu juga demikian

Aku masih disini
Mendengarkan murobbiku memberikan tausiyah
Tausiyah yang kelak akan kamu sampaikan untukku setiap malam

Aku masih disini
Bercengkrama dengan sahabat sahabatku
Yang kelak juga akan menjadi sahabatmu

Aku masih disini
Sedang menyiapkan santap sahur
Maukah kamu sepiring berdua denganku?

Aku masih disini
Setia menantimu bersama mereka
Amalan amalan luar biasa, yang akan menghantarkan aku padamu.


Butuh berapa lamu kamu akan datang menemuiku?
Apakah masih lama?
Tapi kamu jangan khawatir, aku akan selalu setia
Setia pada ajaran agamaku
Tak ada istilah pacaran, itu haram dalam agamaku.
Meski sekarang banyak yang suka yang haram, itu pilihan
Aku takkan ikut ikutan
Karena aku setia padamu, seperti aku setia pada Rabbku

Aka masih disini
Aku punya banyak teman dalam penantianku
Kamu, berjuanglah…
Kamu yang masih menjadi rahasia indahNya


Dari Hatiku Kepada Hatimu
Samarinda, 24 Maret 2015
10.30 WITA

@Irnayuliani_