Do What You Love, Love What You Do

Rabu, 31 Desember 2014

Kita Dalam Antrian



Penghujung Tahun 2014 negeri ini dipenuhi duka, setelah kejadian longsor di Banjarnegara, disusul kemudian dengan jatuhnya pesawat Air Asia. Suadara saudara kita jatah umurnya sudah habis, saatnya mereka menghadap sang pencipta. Kiriman doa kepada mereka yang telah mendahului agar amal ibadah mereka diterima Allah SWT dan juga kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan.

Bagi saya pribadi tak ada yang special di pergantian tahun, tidak ada perayaan apapun dan memang tidak yang pantas dirayakan, yang menjadikannya beda hanyalah hari kamis, yang berarti waktunya kita shaum sunnah.

1 Januari 2015……
Zzzzzz….aku lalui dengan tidur pulas, setelah hampir gondok dikarenakan di dekat rumah suara petasan, kembang api saling bersahut sahutan, ditambah lagi panggung music yang suaranya tambah malam tambah nyaring, membuat saya tidak bisa tidur. Seperti biasa Alarm pukul 03.00 berbunyi untuk sholat Tahajjud, setelah mematikan alarm aku tertidur lagi, hehhehee. Tapi pukul 03.30 aku terbangun, kuraih handphone membuka beberapa BBM teman, dan jleebbbbb, kabar duka melayang dari sebuah BBM teman. Salah satu teman SMA ku sedang berduka, suaminya telah tutup usia, di usia pernikahan mereka yang masih berjalan kurang lebih 4 bulan. Aliran darah terasa mengalir sangat cepat, jantung memainkan irama yang berbeda, kaki terasa dingin, jemari jadi kaku, kabar ini membuatku tersadar bahwa kematian itu mengintai setiap yang hidup di muka bumi ini, termasuk kamu yang sementara membaca tulisan ini.

Rasa takut terasa menjalar diseluruh persendian tubuh ini, tiba-tiba kaku, membayangkan bagaimana jika tiba-tiba malaikat maut datang menjemputku, atau menjemput salah satu dari keluargaku, dari sahabat sahabatku, rasanya hati ini belum cukup lapang untuk itu, lalu kenapa saya masih santai santai saja berbaring, bukankah hanya amal ibadah yang akan menjadi teman setia kita nanti. Duaaarrr…..aku baru tersadar belum sholat Tahajjud dan sahur. Jam di handphone sudah menunjukkan pukul 03.40, aku langsung loncat dan segera menunaikannya.

Hening….
Ada ketakutan mengiring sujud sujudku, takut akan kematian, yaaa karena amal ibadah ini rasanya belum juga cukup menjadi bekalku di alam kubur dan menghadap Rabbku. Maka di akhir sholatku, kutengadahkan kedua tangan kualunkan pinta kepada Tuhanku, agar jatah hidupku masih Ia tambah, agak diri ini masih bisa mengumpulkan bekal untuk kembali padaNya, demikian pula kuminta kepadaNya agar memanjangkan umur Ibu Bapakku, aku minta agar Ibu Bapakku bisa menimang cucu dari ketiga putra putrinya dan sekali lagi menjadi tamuNya di Makkah Al Mukarrammah, sebelum akhirnya kedua orang yang teramat sangat saya cintai itu menghadapNya.

Seperti kebiasaan di akhir tahun, saya selalu membuat sebuah perencanaan selama satu tahun, yang saya beri judul “Proposal Hidup”, di dalam proposal itu berbagai planning saya tuliskan lengkap, yang semuanya mengacu kepada VISI Hidupku,

Visi Dunia
“Menjadi Motivator Nutrisi Kelas Dunia, Dengan Mencetak 1000 Motivator Nutrisi Lainnya”

Visi Akhirat
“Mendirikan istana di Surga untuk Ibu Bapakku, menggengam tangan suamiku bertemu Rasulullah SAW, memeluk istri-istri Rasulullah dan para sahabiyah.”

Itulah Visi hidup saya, dan semua butuh kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas untuk mewujudkannya, tambah satu lagi, keyakinan bahwa kita bisa meraihnya.

Kita semua dalam antrian kawan, sewaktu waktu akan tiba giliran kita menghadapnya, maka jadikanlah hidup kita, kita isi dengan banyak hal hal yang baik bukan cuma untuk dunia kita, tapi juga akhirat kita, dan sebaik baik manusia adalah yang banyak manfaatnya.

 Salam Semangat
@irnayuliani_

Sabtu, 27 Desember 2014

Izinkan Aku Mencintaimu



Aku lupa, kapan pertama kali bertemu denganmu, yang kuingat hanyalah rasa yang tersemat di hati ketika mata memandang, yang kuingat adalah waktu yang tak terasa berlalu begitu cepat, ketika diam diam aku meresapi kata demi kata darimu. Aku selalu hanyut dibawa arus ketika kubiarkan rasa ini terbawa olehmu, kadang kamu buat aku penasaran, kadang kamu buat aku tertawa lepas, kadang kamu buat aku tersanjung dan merasa betapa berharganya aku, kadang kamu buat aku menangis, kadang kamu buat aku iri, dan tak jarang kamu membuatku rindu.

Seperti menikmati makanan kesukaan, rasanya tak ingin cepat cepat menghabiskannya, demikianlah saat aku bersamamu, tak ingin semuanya cepat berlalu. Yang kusuka adalah ditiap katamu selalu hadir pesan luar biasa padaku, dan bukan hanya padaku, tapi pada semuanya.

Kamu telah benar benar menyentuh qalbuku, membuatku menyadari betapa indah hidup yang kujalani, menyuburkan cinta yang tersimpan rapi buat kedua malaikatku, mengarahkan mataku memandang jauh ke atas langit, melapangkan hatiku selapang lapangnya agar hatiku dipenuhi rasa syukur atas karuniaNya.

Aku suka mengabiskan waktu bersamamu, tak peduli aku telah berapa kali bertemu dengan kalimat yang sama, sungguh aku tak peduli, karena tiap kalimat yang kamu sampaikan selalu ada kebaikan di dalamnya, maka kubiarkan hatiku keluar menyambutmu, agar ia semakin paham maksudmu.

Sepertinya hatiku mulai jatuh cinta, dan mungkin memang sudah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu denganmu, jatuh cinta pada tulisan tulisanmu, tulus dan menyejukkan. Aku hanya jatuh cinta pada tulisan tulisanmu, semoga kamu dan tak ada orang lain yang berkeberatan atas itu. Aku berharap kamu memberiku izin untuk terus jatuh cinta pada tulisan tulisanmu, hanya pada tulisan tulisanmu.


Samarinda, 27 Desember 2014
@IrnaYuliani_

Senin, 22 Desember 2014

Guru Kehidupan



Tidak terasa saya sudah 7 bulan menetap di Samarinda, berkenalan dengan banyak orang baru serta melihat kebudayaan yang begitu beragam di kota ini. Menjadi Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur, Kota Samarinda berkembang pesat, baik di bidang perekonomian, pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, kebudayaan dan lain lain, semua dalam proses berbenah dan berusaha makin baik dari hari kehari. Sayangnya selama 7 bulan saya disini, saya belum terdaftar sebagai warga Samarinda, entah apa yang menjadi faktor penghambat pengurusan Kartu Keluarga dan KTP nya terkesan lambat, padahal saya sudah menyetor semua berkas kepindahan saya dari Makassar ke Samarinda tepat 7 bulan yang lalu, dan baru hari ini saya ada panggilan untuk pemotretan, eehhh foto KTP maksudnya *hihihii….

Mengingat tempat saya menetap saat ini dengan alamat di KTP itu berbeda, saya terpaksa izin sehari dari kantor hanya untuk mengurus KTP. Rencana awal, pak RT akan menemani saya menyetor berkas pembuatan KTP di kantor kecamatan, tapi tiba-tiba di pagi buta salah satu warganya ada yang meninggal dunia, jadilah beliau terpaksa memohon maaf tidak bisa menemani saya ke Kantor Kecamatan, karena beliau harus mengurus pemakaman warganya, itu tak menjadi masalah buat saya, memang demikianlah seharusnya seorang pemimpin, ia harus mengutamakan yang penting dan mendesak, yaa seperti pemakaman, seperti ini tidak bisa ditunda tunda.

Jadilah saya berangkat ditemani ibu tukang ojek langganan tante, tentulah ia tahu kantor camat yang ingin saya tuju, tidak seperti saya yang tidak tahu karena memang baru kali ini saya akan kesana. Motor yang dikendarai si ibu melaju cepat, hanya berkisar 10 menit sampailah saya di sebuah kantor camat. Sebelum masuk saya berpesan kepada ibu tukang ojek agar tak menunggu saya, siapa tau saya lama. Setelah mengucap terima kasih ibu tukang ojek pun pergi dan saya melangkah masuk.

Di teras kantor camat saya disambut dengan banyak genangan air serta lumpur dimana-mana, sepertinya kantor camat ini baru saja kebanjiran, tak merasa ada gelagat yang aneh, saya langsung nyelonong masuk ke tempat pembuatan KTP.
 “Maaf pak mau buat KTP….”
“Yaa, berkasnya mana?”
“Ini Pak..” Sambil saya nyodorin berkas yang di kasih Pak RT tadi pagi
“Waah mbak, ini bukan disini, kantor camatnya ada di Lempake, ini Kecamatan Sungai Pinang”
“Apaaaa, ohh yaa Pak, Kantor Camatnya di mana pak?”
Bapak di ruang pembuat KTP itu mulai menjelaskan, yang penjelasannya sama sekali tak kumengerti. Raut muka saya mulai berubah, mana ibu ibu tukang ojeknya sudah pulang, kesel, pengen marah, tapi coba berpikir jernih, kupikir ibu tukang ojek itu tau Kantor Camat yang saya maksud, tau tau nya saya dibawa ke kantor camat yang salah.

Dengan langkah yang sudah tak bersemangat, hati sudah badmood saya melangkah keluar, tepat berdiri dipinggir jalan, ini mau kemana? Mengubungi siapa?, diseberang jalan ada seorang bapak yang sedang sibuk bekerja di bengkelnya, saya bertanya kepada bapak itu saja, saya pun menyebrang jalan.
“Maaf pak, mau tanya Kantor Camat Samarinda Utara itu di sebelah mana yaa Pak?
“Itu di Lempake Mbak, terminal ujung belok kiri, terus-terus”
“Ke sana bisa naik angkot gak pak …?” Tanyaku, masih dengan muka yang sama sekali tak bersemangat
“Angkot ke sana susah mbak..”
“Naik ojek aja kalo gitu, disini pangkalan ojek dimana pak..?
“ Sekitar 150 meter ke sana, ada pangkalan Ojek”
“ooh yaa pak, terima kasih” aku pun berbalik, dan dari sebrang jalan aku lihat papan nama kantor camat nya, dan membacanya, tulisan di papan itu adalah “KANTOR CAMAT SUNGAI PINANG”, naah kalo seperti ini siapa sebenarnya yang kurang cermat, bukan salah ibu tukang ojek sepenuhnya dong yaa, ini salah saya juga, kenapa tidak mengkonfirmasi dulu apa benar ini kantor camat yang saya tuju apa bukan, sebelum menyuruh tukang ojeknya pergi. (Pelajaran Pertama), Harus Teliti, gak boleh langsung menyalahkan orang lain, dan mesti sabar.

Lanjut, saya pun berjalan mencari pangkalan ojek, setelah bertanya dua kali, barulah saya mendapatkan pangkalan ojeknya.
“Kemana mbak?” Kata Tukang Ojeknya
“Kantor Kecamatan, yang di Lempake yaa pak”
“Yaa mbak…”
Tanpa banyak bertanya lagi saya pun naik, motor melaju dengan cepat. Berselang beberapa menit, saya mulai merasa aneh, kok Kantor Camatnya terasa amat jauh yaaa, mana di kanan kiri hanya ada beberapa rumah, tampak sepi, dan terasa horror, mau dibawa kemana saya sama tukang ojek ini, pikiran negative saya mulai mengusik, doa mengalun menenangkan hati yang tadinya kesel berubah menjadi was was.
“Stop stop stop” teriak saya
“Kenapa mbak?” tanya bapak tukang ojeknya
“Tunggu dulu pak, ini saya bingung sebenarnya Kantor Camat yang mana yang harus saya datangi”
“Kalo Kantor Camat Samarinda Utara yang di depan sana mbak, memang di wilayah Kel.Lempake”
“Ohh yaa, lanjut aja” kataku kemudian, meski masih sedikit was was
Suara tukang ojeknya, terkesan menandakan bahwa ia tidak sedang berbohong, motor pun melaju kembali, dan akhirnya berbelok memasuki sebuah gedung bertingkat dua yang cukup besar. Aku baca dari papan besarnya, yahh benar ini Kantor Camat Samarinda Utara. Setelah berterima kasih pada tukang ojeknya, saya masuk dan lansung menuju ruangan untuk foto KTP di lantai dua. (Pelajaran Kedua), jangan gampang berpikir buruk tentang orang lain.

Setelah foto KTP, dan di sampaikan bahwa KTP nya baru jadi seminggu kemudian, saya sedikit kecewa karena pikiran saya KTP nya bisa langsung jadi hari ini. Selanjutnya saya berfikir dengan apa saya pulang, info dari bapak tukang ojek yang tadi mengantar, bahwa angkot masih biasa ada yang lewat di sini, tapi memang harus menunggu cukup lama, dan biasanya jika sudah lewat tengah hari hari tidak ada lagi angkot yang lewat. Waktu masih menunjukkan pukul 10.30, berarti masih ada harapan ada satu dua angkot yang lewat, saya pun melangkah ke depan kantor camat, sambil bertanya ke seorang bapak yang sibuk mengisi solar buat genset Kantor Camat, memastikan apa memang masih ada angkot yang lewat.

Satu jam kemudian….
Tak ada tanda-tanda ada angkot yang akan lewat, karena memang sudah terbiasa menunggu angkot sampai berjam jam, jadi masih sabar menunggu, tiba-tiba dari samping sebuah mobil pickup berhenti, dan dari dalam mobil seorang bapak bapak menyapa…
“Mbak, mau ikut sampai depan, di terminal sana banyak angkot”
“Ohh iyaa pak, boleh” jawab saya sambil tersenyum
Bapak pengisi solar tersebut ternyata telah menyelesaikan pekerjaannya, dan hendak pulang, beliau menawarkan tumpangan padaku. Sampai di terminal saya pun turun dan menyodorkan beberapa lembar uang kepadanya, tapi bapaknya menolak menerimanya, akhirnya saya pun hanya bisa berterima kasih atas kebaikannya memberikan saya tumpangan. (Pelajaran Ke Tiga), Berbuat baiklah tanpa mengharap imbalan apapun.

Hari ini aktivitas saya memang hanyalah mengurus pembuatan KTP, tapi Allah mengajak saya bertemu dengan guru guru kehidupan, guru tak mesti mereka yang memakai seragam, berdiri di depan kelas, atau menjelaskan/mengajarkan kita sesuatu. Bagi saya guru itu bisa saya temukan dimana saja, dari siapa saja, seperti halnya hari ini saya belajar dari dua tukang ojek dan seorang tukang solar, pelajaran yang kadang tak kita dapat di sekolah formal, dari mereka bertigalah saya belajar banyak hal hari ini. 

Salam Santun
 @irnayuliani_

Minggu, 30 November 2014

Keluarga Baru Dari Timur Borneo



Perjalanan hijrah manusia akan selalu berlagsung hingga kelak ajal menjemput. Hidup akan selalu diwarnai perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti ketika kita lulus taman kanak kanak, kita pindah ke SD, lalu SMP, SMA, kuliah, dan akhirnya bekerja, itu pun terkadang masih diwarnai perpindahan dari satu kantor ke kantor berikutnya, atau dari satu jabatan ke jabatan selanjutnya, begitulah hidup yang selalu diwarnai perpindahan, mungkin hampir semua manusia pernah mengalami perpindahan.

Termasuk aku……

Hijrah dari kota daeng ke kota tepian, dari Makassar ke Samarinda adalah salah satu bentuk perpindahan yang kualami. Bertemu dengan banyak orang baru, melihat tempat tempat baru, mempelajari bahasa dan tradisi yang baru, dan dari sekian banyak hal baru yang saya temukan di kota ini, hal yang paling luar biasa bagi saya adalah bertemu dengan keluarga baru di pengajian rutin pekanan yang saya ikuti.

Di kelompok pengajian rutin pekanan itu saya menemukan saudara saudara yang bagi saya adalah keluarga baru yang Allah kirim khusus kepada saya, saya baru bergabung sekitar tiga bulan lebih, tapi ukhuwah itu sudah terasa sangat kental mengalir, menyatu bersama nafas dan aliran darah ini. Sujud syukurku tiada terkira karena Allah mengirimkan bidadari bidadari dunia yang akan selalu menjadi tempat saya belajar dan berbagi pengalaman, mereka adalah guru guru terbaik yang saya miliki di sini.

Izinkan saya menyebut nama sahabat satu persatu, ada Mbak Mia, Mbak Icut, Mbak Uchi, Mbak Rara, Mbak Anti, Mbak Ningsih, Mbak Hana, Mbak Lina, dan satu lagi personil baru di kelompok kami, mbak Syifa, semoga persaudaraan kita kekal hingga ke surga. Aaamiiin

Saya teringat sebuah taujih yang diberikan MR saya yang di Makassar Ummu Anis (Izin Sebut nama yaa Kak, ^ ^), Isinya seperti ini

Kalian tahu kenapa hujan itu menyenangkan?
Karena turunnya rame-rame
Pasti garing kalo hujan itu turunnya hanya satu tetes satu tetes…

Kalian tahu kenapa nasi itu lezat dan mengenyangkan?
Karena dihidangkan rame-rame
Pasti bengong kalo hanya satu butir saja diatas piring
Ini mau makan apa?

Kalian tahu gigi itu berguna?
Karena rame rame berbaris rapi
Pasti ompong nyebutnya kalo cuma satu
Tidak bisa buat mengunyah, cuma bisa buat tersenyum melihatnya

Sungguh di dunia ini sesuatu yang positif selalu special saat rame rame dilakukan. Sholat jamaah rame rame lebih afdol, tilawah rame rame tentu lebih istiqomah, gotong royong rame rame lebih oke, belajar rame rame saling bantu lebih banyak yang dipelajari, bekerja rame rame saling tolong tentu lebih cepat selesai.

Itulah gunanya teman teman terbaik, teman yang saling menasehati dan mengingatkan, rame-rame selalu menjadi lebih seru.

Kalian tahu kenapa keyboard laptop atau HP harus lengkap?
Karena hilang satu saja rasanya sudah tidak utuh lagi.
Begitulah pertemanan yang baik, hilang satu terasa kosong semuanya. Rame rame selalu menyenangkan

Tetap berada dalam jamaah itu lebih baik dari pada sendirian.
(Ditulis oleh Ustadz Kholid Syamhudi)

Demikianlah, setelah beberapa pekan liqo kami hanya dihadiri empat atau lima orang saja, beberapa waktu lalu lengkap semua hadir delapan orang plus yang baru jadi totalnya ada Sembilan dalam kelompok liqo kami. Betapa bahagianya berkumpul dalam anggota yang lengkap, lebih banyak yang bisa disharingkan, lebih banyak tambahan pengetahuan, dan ukhuwah itu terasa makin nikmat dan sepertinya lebih manis daripada gula, dan inilah keluarga baru saya dari timur Pulau Borneo.