Do What You Love, Love What You Do

Senin, 28 Desember 2015

Ini cerita liburanku, cerita liburanmu mana?

Keputusannya melepas anak gadis nya tinggal jauh dari keluarga saya tau sungguh sangat berat baginya, tapi kebanggaan nya pada anak sulungnya atas setiap pencapaiannya menguatkan hatinya untuk membiarkannya pergi, menggapai mimpi mimpinya untuk menjadi sebaik baik manusia yang bermanfaat bagi sesamanya, ia tak lain adalah lelaki  yang kupanggil bapak, disampingnya berdiri seorang perempuan berhati emas yang tak henti hentinya berdoa pada Allah agar menjaga anaknya di rantauan, dialah yang sejak berpuluh tahun silam aku panggil mama.

Tak terasa sudah setahun enam bulan mengemban tugas sebagai pelayan masyarakat di salah satu kota di pulau kalimantan, yang otomatis membuat intensitas pertemuan saya dengan orangtua sangat sedikit, kerinduan pun akhirnya hanya seringkali berlabuh dalam bait bait doa.

Menjelang penghujung tahun, ajakan liburan dari teman teman mulai berdatangan, mengingat ada beberapa tanggal merah yang memungkinkan bagi saya untuk bisa bergabung, akan tetapi di tengah keinginan untuk ikut menjelajah tempat tempat baru, hati kecil ini berbisik tentang dua malaikat yang senantiasa rindu menunggu saya untuk pulang, dialah mama dan bapakku. Merekalah  yang selalu menjadi alasanku untuk kuat, untuk selalu semangat berkarya, semangat  berbagi, dikala kejenuhan menghampiri, perjuangan mereka membesarkan, menyekolahkan, mendidik, dan mengurusi segala hal tentang hidupku selalu menjadi penyemangat luat biasa, lalu kenapa saya tidak memilih liburan bersama mereka ?.
Saya pun akhirnya memutuskan untuk pulang kampung dan menikmati liburan bersama keluarga.

Bagi saya moment saat perjumpaan pertama kali dibandara setiap kali mereka datang menjemputku setelah lama tak bertemu adalah moment paling mengharukan, mereka rela datang lebih awal untuk menghindari macet dan menunggu berjam jam dari pada harus telat datang menjemputku. Melihat wajah mereka dari kejauhan, dengan pandangan mata penuh harap, mencari cari dari kerumunan orang banyak yang satu persatu melintas pintu kedatangan, berharap diantara mereka ada seseorang yang mereka tunggu. Pemandangan seperti itu sungguh mengharukan bagi saya, gelombang cinta yang teramat besar kurasakan dari kejauhan saat kembali bertemu kedua orangtua yang begitu saya rindukan.

Disambut gerimis, kota kecil ini terasa ikut juga menumpahkan kerinduannya padaku. Perjalanan ke kampungku akhirnya harus ditempuh selama kurang lebih dua jam karena jalanan licin dan berkelok kelok. Kecamatan Camba, Kab.Maros Sulawesi Selatan dengan bangga kuperkenalkan sebagai kampung halamanku, sebuah desa kecil di kaki gunung sekitar 45 km dari pusat Kota Kabupaten Maros.

Dua jam perjalanan tak pernah membuat saya bosan atas suguhan alam yang begitu indah sepanjang perjalanan, melewati hamparan sawah yang menguning, suara derasnya air sungai memecah bebatuan, gunung gunung yang menjulang, melewati kawasan hutan lindung dan sungguh beruntung waktu saya lewat sekawanan kera sedang asyik makan di pinggiran jalan, kera kera itu sangat jarang bisa kita temukan saat ini. Kaca mobil kubiarkan terbuka, kubiarkan angin membelai wajahku, bergantian dengan gerimis yang sesekali menghampiri, siapa sangka sekumpulan kupu kupu dengan beraneka warna dan ukuran yang berbeda dengan santainya datang menghampiri seolah olah menyampaikan ucapan selamat datang. Allah, terima kasih atas suguhan alam yang begitu sempurna menyambut kedatanganku kali ini.

Rencana liburan sudah saya susun, kali ini pengen mengajak keluarga maen ke air terjun, air terjun yang paling terkenal di Sulawesi Selatan, yakni Air Terjun Bantimurung, juga pengen ngajak makan pisang epe di anjungan Pantai Losari, juga wisata kuliner ke tempat makan favorite, tapi apalah daya hujan tak henti hentinya menghuyur. Alhasil rencana liburan pun akhirnya berubah dengan berjalan jalan mengitari pusat perbelanjaan sambil sesekali mampir untuk makan bersama, selebihnya liburan saya nikmati di rumah saja.

Sepertinya Allah punya rencana lain atas liburan saya, saya lebih banyak menghabiskan waktu liburan di rumah, bercengkrama dengan orangtua dan saudara, mendengarkan adik yang lahir setelah saya menjelaskan tentang ribetnya menjalani praktikum dan segala hal tentang perkuliahannya serta dengan setia mendengar adik bungsuku menjelaskan nilai nilai ujian semesternya, mendengarkan bapak dengan seabrek cerita tentang berbagai pengalaman hidupnya, sambil menikmati berbagai cemilan yang dibuat mama. Demikianlah liburan yang kami nikmati dengan bercerita dan saling mendengarkan, bercerita tentang harapan dan impian impian kami masing masing, mendengarkan nasehat bapak dan mama yang tak pernah habis. Kami tertawa, bersenda gurau menikmati kebersamaan yang begitu singkat, dan akhirnya saya mengerti bahwa liburan itu bukanlah tentang dimana tapi bersama siapa dan bagi anak perantauan seperti saya liburan bersama keluarga adalah yang paling tepat.
Jika kamu punya waktu yang cukup luang, sesekali habiskanlah liburanmu bersama orangtua, karena tak ada yang bisa memastikan liburan mendatang kita masih bisa bersama.

Ini liburanku, mana liburanmu?

Sabtu, 05 Desember 2015

Dear, My Future Husband

Kepadamu yang masih dirahasiakan keberadaannya
Bisakah kamu merasakan rindu yang kutitip lewat angin
Entah senja yang mana yang akan kita nikmati bersama
Aku hanyalah perempuan akhir zaman
Yang masih tertatih menjaga istiqomah
Yang masih belajar menjaga hati

Aku berhenti mencarimu diantara bunga bermekaran
Aku juga berhenti mencarimu diantara daun daun yang jatuh
Karena kau memang  tak disana

Mungkinkah kamu ada diantara rintik hujan
Atau ada dibalik empun pagi,
kenapa begitu jauh mencarimu
Padahal engkau sudah teramat dekat denganku
Yaah engaku ada ditiap doa doa panjangku
Akan selalu ada disana

Berjuanglah, aku disini menantimu dalam taat padaNya.
Menantimu meniti surga bersama
Segenap hidupku ada ditiap ridhomu
Segenap bahagiaku ada ditiap bahagiamu
Aku hanya berharap dengan bersamamu, aku bisa semakin mencintaiNya


Ruang Hati, 6 Desember 2015
Irna Yuliani

Jumat, 04 Desember 2015

Kawan Kecilku di Puncak Biru

Ini kisah tentang sebuah ketulusan
Kisah tentang kaki kaki kecil yang belajar bermimpi
Kisah tentang sebuah pertemuan
Dan mungkin saja kamu bagian dari kisah ini

Langit tampak muram, seperti akan mengeluarkan sesuatu, benar saja beberapa menit kemudian tetesan air pun akhirnya membasahi bumi, menemani perjalananku menuju ke suatu tempat yang tak lagi asing bagi saya. Ini yang ketiga kalinya saya berkunjung ke salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tenggarong, demikian nama yang disematkan untuk kota kecil yang wilayahnya dilintasi sungai mahakam ini.

Perjalananku sore itu membawa khayalanku melintas lorong waktu menuju ratusan tahun yang lalu, menuju ke zaman kejayaaan Kerajaan terbesar di Pulau Kalimantan, Kerajaan Kutai,  yang nilai sejarahnya bagus, pasti akan tau bagaimana megahnya Kerajaan ini dahulu. Sepanjang jalan menuju tenggarong, saya disuguhi pemandangan yang bebeda, bukan hamparan sawah yang menguning, atau jajaran gunung yang menjulang tinggi, tapi yang ada adalah potret  hasil hasil tambang yang tampak seperti bukit bukit. Kabupaten Kutai Kartanegara memang termasuk daerah yang kaya akan hasil tambang, tidaklah mengherankan jika Kabupaten ini lebih maju dibanding kabupaten kabupaten lain di Kalimantan Timur.

Assalamu'alaikum Tenggarong.....

Tepat pukul 5 sore saya tiba di kota ini, kedatangan saya kali ini mengemban misi kemanusiaan, anggaplah seperti itu. Misi kemanusian itu adalah menjadi bagian dari "Kelas Inspirasi" yang kali ini dilaksanakan di Tenggarong. Bergabung dengan para agen kemanusian yang kalau di Kelas Inspirasi disebut sebagai "relawan".

Bagi yang belum tau tentang kelas inspirasi, akan saya jelaskan sedikit. Kelas inspirasi merupakan sebuah program mengajar sehari yang ditujukan kepada para profesional dari berbagai profesi yang ingin berkontribusi secara nyata kepada pendidikan Indonesia, dengan cara menjadi relawan pengajar. Para relawan akan cuti satu hari untuk mengajar di SD mengenai profesi mereka sehari hari. Mereka akan berbagi cerita tentang profesi mereka untuk menginspirasi murid murid SD, tentang keberanian untuk bermimpi yang tinggi dan menunjukkan bagaimana cara untuk mewujudkan mimpi mimpi mereka.

Senin, 30 Nopember 2015

Pukul 19.25 Wita sebuah pesan singkat masuk di hp saya
"Mba saya sudah di depan kantor Dinas Kesehatan, mbak dimana?"
Itu pesan dari relawan fasilitator kelas inspirasi yang bertugas di kelompok saya, perempuan cantik nan periang, begitu kesan pertama saya. Malam itu selepas Isya ia menjemput saya untuk bersama sama menuju tempat relawan lain yang tergabung dalam kelompok saya,  yang sedang berkumpul, karena masih harus mendiskusikan beberapa hal tentang pelaksanaan Kelas Inspirasi esok harinya, dan beberapa persiapan lain yang belum rampung. Malam itu ditutup dengan senyuman manis, dan harapan dihati semoga segala agenda esok berjalan dengan lancar.

Selasa, 1 Desember 2015

Selamat datang hari inspirasi, meski ada 2 relawan di kelompok saya yang tiba tiba mengundurkan diri karena agenda dadakan yang tak bisa ditinggal, sungguh tak mengurangi semangat kami untuk berbagi. Matahari pagi bersinar terang, memberi transfer energi kepada kami yang bersiap menuju SDN 034 Jahab Tenggarong, sebuah SD yang sedikit berada jauh dari pusat Kota Tenggarong. 6 Relawan Pengajar, 3 Relawan Fasilitator dan 2 Relawan Dokumentator, bersiap menginspirasi anak anak Indonesia, meski baru pertama kali bertemu, tak butuh lama bagi kami untuk bisa mengakrabkan diri.

Semua murid berkumpul dilapangan yang kemudian bersama sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum masuk ke kelas masing masing. Memandangi wajah wajah mereka yang tampak heran melihat kami, meski demikian senyum tak pernah lepas dari wajah mereka. Hari itu saya kebagian 4 kelas, alhamdulillah dengan sangat bahagia saya menjelaskan tentang profesi saya sebagai ahli gizi, mereka pun tampak antusias, dan setelah saya meminta beberapa orang dari mereka menjelaskan tentang pekerjaan seorang ahli gizi dan bagaimana jika ingin menjadi ahli gizi, alhamdulillah mereka sudah mampu menjelaskannya. Cukup melelahkan mengajar di 4 kelas, hal ini menyadarkan saya bahwa menjadi seorang guru bukanlah tugas yang mudah, butuh kesabaran, butuh ketulusan untuk mampu mengajarkan sesuatu kepada anak anak.
Mendengarkan mereka bercerita tentang impian mereka, senyuman tulus mereka, canda tawa mereka, sungguh pemandangan yang sangat indah. Setiap anak kemudian menuliskan nama dan cita cita mereka di sebuah kertas warna yang telah kami sediakan, beberapa diantara mereka datang menghampiriku meminta bantuan menuliskan cita cita nya....
"Namanya Siapa ??"
"Nanda bu"
"Cita cita Nanda apa?"
"Nanda ingin jadi guru"
"Kenapa Nanda ingin menjadi guru???"
Tak ada jawaban, ia hanya melempar senyum malu malu kepadaku kemudian berlari menuju tempat duduknya dan masih tersenyum kepadaku. Senyuman itu sangat meneduhkan, tak perlu kamu minta, apalagi kamu beli, karena sesuatu yang indah itu hanya butuh ketulusan. Nah inilah tugas kami datang, untuk menjelaskan kepada mereka apa itu cita cita, kenapa harus punya cita cita, dan bagaimana mewujudkannya.

Kami datang berbagi inspirasi melalu profesi, suatu kehormatan luar biasa saya diberi kesempatan menjadi bagian dari kegiatan ini, meski tak banyak yang bisa saya bagi, meski terasa belum cukup menyampaikan banyak hal kepada mereka, tapi semuanya sudah memberi warna baru dalam hidupku.

Kelas Inspirasi SDN 034 Jahab hari itu ditutup dengan bersama sama menyanyikan lagu himne guru. Setelah mengabadikan beberapa moment bersama, akhirnya kami pun berpamitan kepada bapak ibu guru serta murid murid SDN 034 Jahab, semoga Allah mengizinkan kita bertemu kembali. Kawan kecilku, teruslah bermimpi kalian anak anak cerdas yang punya cita cita hebat, Indonesia bangga memiliki kalian.

Agenda selanjutnya menuju tempat pelaksanaan refleksi dimana seluruh relawan yang bertugas di 6 Sekolah Dasar di Tenggarong akan kembali berkumpul, saling bertukar cerita tentang pengalaman mereka mengajar sehari di tempat tugas masing masing. Setelah sesi foto bersama akhirnya sampailah diakhir pertemuan. Dengan penuh kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih sedalam dalamnya kepada semua teman teman relawan Kelas Inspirasi Tenggarong, terima kasih sudah memberi warna baru dalam perjalananku, lagi lagi saya belajar tentang sebuah ketulusan dari orang orang seperti kalian, terima kasih luar biasa untuk bapak ibu guru serta murid murid di SD 034 Jahab, terima kasih telah menerima kami untuk sedikit berbagi. Terima kasih banyak juga kepada teman teman relawan SDN 034 Jahab, Kakak Fasil (mba Dian, mba Wd, mas Novian), dan salam hormatku untuk teman teman Inspirator (Pak Yuliandris, Mas Galih, Mas Erwin, Bu Emy, mas Yuda) serta special thanks untuk abang dokumentator keceeh (bang Fuad dan bang Ridwan).

Semoga kita bisa bertemu kembali dalam misi kemanusian selanjutnya....



Salam Inspirasi

Sekilas Kelas Inspirasi SDN 034 Jahab https://youtu.be/ScTILegRImo




Rabu, 04 November 2015

Seperti Apa

Seperti apa.....
Seperti apa engkau mencintaiNya
Seperti sujud sujud panjangku diheningnya malam
Seperti apa engkau menjaga diri
Seperti rasa yang tak kubiarkan berlabuh sebelum waktunya

Seperti apa....
Seperti apa engkau memintaku padaNya
Seperti tengadah doa yang tak lelah kuucap
Seperti apa engkau memperbaiki diri
Seperti aku berlari menembus dinginnya subuh menuju mesjid

Seperti apa engkau kutunggu
Seperti sabarnya Siti Hajar menanti kehadiran Ismail
Seperti apa engkau akan datang
Seperti Ali meminta Fatimah kepada Rasulullah

Seperti apa akhlakmu sekarang
Seperti akhlak seseorang yang kamu lihat di depan cermin

Lalu....
Seperti apa kita akan bertemu
Seperti doa doa kita yang telah bertemu lebih dahulu
Indah....

Dari hatiku kepada hatimu
Samarinda, 4 Nov 2015

Salam
Irna Yuliani





Minggu, 25 Oktober 2015

Cukup Kami

Sepertinya mendung, tapi tak berarti hujan

Aku lupa itu hari apa, sudah sekitar tiga minggu yang lalu, yang kuingat pagi itu tampak mendung, matahari sungguh enggan menyapaku, mungkin akan turun hujan, pikirku. Setelah sekian lama tak mencium aroma tanah yang basah karena hujan, mungkinkah hari ini aku akan mencium aroma itu, semoga harapku dalam hati waktu itu.

Tiba tiba harapan itu menjadi sirna saat temanku berkomentar dan mengarahkan pandanganku ke atap rumah rumah warga, apakah kamu bisa melihat atap atap rumah mereka. Kutajamkan penglihatanku, yaa atap atap rumah warga tak terlihat sama sekali, tapi saya masih belum mengerti. "Ini bukan mendung na, ini kabut asap, kalo mendung masa awan nya bisa sampai menutupi atap rumah. Sedikit tersentak aku dibuatnya, kuarahkan lagi pandanganku, jauh kesegala penjuru, dan yaaa ini memang bukan mendung ini kabut asap.

Tiba tiba terasa sesak, pemandangan diluar terlihat makin menyeramkan, sepertinya negara api sudah menyerang. Teringat kawan kecilku diluar sana, apa kabarnya dia. Ia yang kadang hanya berganti baju seragam sekolah, celana sekolahnya yang berwarna merah pudar masih ia pakai menyusuri jalan jalan kota kecil ini, menjajakan kue hasil buatan ibunya.

Pernah suatu ketika aku bertemu dengannya disebuah pelataran mesjid selepas Isya, ia sedang beristirahat, kupandangi dagangannya yang masih banyak. "Kenapa masih jualan sampai jam segini de, tanyaku padanya".  Ia tak langsung menjawab, malah sibuk melihat sekeliling apakah ada yang mau membeli dagangannya, baru beberapa menit kemudian ia menjawab, "Aku butuh uang untuk beli buku paket di sekolah kak" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari sekitar, kalau kalau ada yang mau membeli dagangannya. 

Usianya masih sangat belia, ketika ia harus mencicipi kerja keras. Sebelum meninggalkannya, kuborong semua dagangannya, dan menyuruhnya untuk segera pulang, ini sudah larut malam untuk anak seusianya yang masih diluar rumah sendirian.

Semenjak kabut asap melanda kota kecil ini aku jarang melihatnya, kadang aku sengaja menunggunya lama dipelataran mesjid tempat ia sering beristirahat sejenak, tapi tak kunjung juga kelihatan. Hingga beberapa hari yang lalu aku melihatnya berjualan di depan mesjid, lalu kuhampiri ia. Wajah cerianya tak terlihat, tertutupi masker tapi dari tatapan matanya ia tampak terlihat sangat letih.

Ternyata hari ini adalah hari pertamanya kembali berjualan,  ibunya melarang ia keluar rumah selepas sekolah, selama dua minggu ia tak dapat tambahan uang untuk membeli buku sekolah, masih ada beberapa buku yang harus ia beli, ia hanya berjualan di rumahnya, hasil jualannya pun hanya cukup untuk makan sehari hari.

Negeri ini menjadi putih, bahkan menjadi kuning, mungkin dianggap sepele oleh mereka yang masih bisa bebas berjalan jalan menghirup udara tanpa khawatir akan terjadi sesuatu. Tapi lain halnya untuk mereka yang mencari rezeki di jalanan, mengucurkan keringat di udara terbuka. Kadang mereka harus berhenti karena kondisi udara yang makin memburuk, lalu siapa yang peduli, mereka kecil tak terlihat.

Tapi mereka ada, mereka juga hidup di negeri ini, kabut asap yang melanda sudah menjadi neraka dunia, membunuh perlahan, bukan hanya menjadikan paru paru kita lama kelamaan menjadi tak berfungsi dengan baik, tapi juga mengganggu sebagian dari mereka yang mencari rezeki di luar sana.

Lalu mereka yang berdasi, bekerja di balik meja di ruangan ber AC apakah peduli ? Peduli pada negeri yang menjadi putih, mungkin jika negera api menyerang gedung gedung megah mereka, baru mereka tersadar bahwa negara api sudah menyerang kami lebih dahulu.

Semoga hanya kami yang merasakannya, cukup hanya kami.

Samarinda, 25 Oktober 2015
Salam Santun

@irnayuliani_

Kamis, 22 Oktober 2015

Rasamu

Setelah hari itu aku baru tau, tak ada yang bisa menyimpan rapi rasanya, serapi kamu menyimpannya.Tapi rasamu tak bisa kamu sembunyikan dariku, aku tau kapan rindu diam diam menyapamu.

Aku juga tau kenapa kamu dengan sangat rapi menyimpan semuanya, kamu sesungguhnya takut membuat resah seseorang, iyakan? 

Seperti lelah yang selalu berusaha kamu sembunyikan, seperti sedih yang selalu kamu rahasiakan, tapi tak bisa kamu sembunyikan dariku.

Aku tau kamu hanya ingin berbagi bahagia, aku tau kamu hanya ingin memastikan ia baik baik saja, tanpa harus menanyakan banyak hal. Ia yang selalu diam diam kamu rindukan. Ia yang kini dibatasi ruang dan waktu untuk kamu pastikan baik baik saja.

Kamu yang tak pernah absen mendoakannya, aku tau itu. Kamu yang ingin sekali bertemu tapi tak memintanya untuk bertemu, kamu tak ingin mengganggu kesibukannya, padahal jika kamu meminta untuk bertemu ia pasti akan segera datang.

Kamu, ibu luar biasa yang aku punya...

Kamis, 08 Oktober 2015

Kamulah Inspirasiku

Semenjak menginjakkan kaki pertama kali di kota kecil ini setahun yang lalu, semenjak itulah saya jatuh cinta, jatuh cinta pada keramahtamahan masyarakatnya, jatuh cinta pada keberagaman suku yang ada. Tidak cukup sulit bagi saya untuk berbaur dengan masyarakat kota ini yang sebagian besar penduduknya adalah perantauan seperti saya.

Setahun berlalu dan Allah banyak mempertemukan saya dengan orang orang baru, seperti Allah telah menuliskan pertemuan yang sangat indah dengan sekumpulan manusia manusia luar biasa pada tanggal 5 September 2015. Hari itu adalah hari dimana berkumpulnya para relawan yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama "Kelas Inspirasi". Kelas Inspirasi melaksanakan kegiatan mengajar sehari di sekolah, dimana tim pengajarnya berasal dari tenaga tenaga profesional yang berbeda beda, mereka bertugas untuk memperkenalkan profesi mereka kepada anak anak, memberi tau cara untuk bisa menjadi seperti mereka, mengajarkan mereka tentang impian, memberi mereka semangat, berbagi keceriaan, dan masih banyak lagi, sebagaimana tag line dari Kelas Inspirasi Samarinda "Mengajar Sehari Seumur Hidup Menginspirasi", itulah tujuan utama kita, semoga dengan apa yang telah kita bagi kepada mereka, dapat menginspirasi mereka untuk semangat menggapai cita cita dan lebih baik lagi.

5 September 2015, adalah pertemuan pertama saya dengan teman teman yang tergabung satu kelompok dengan saya, pertemuan yang masih terasa dingin, kaku, malu malu (mungkin perasaan saya saja, hehee), tapi itu cuman diawal, suasana cepat mencair seiring waktu dan pertemuan intens kita di grub online.Lahir dari niatan yang sama, yakni bisa menjadi manusia yang bermanfaat kepada sesama, menumbuhkan rasa kekeluargaan diantara kami. Rasa kepedulian dan persaudaraan yang tumbuh, memudahkan kami dalam bekerja tim untuk mempersiapkan hari inspirasi yang terjadwal 14 September 2015 bertempat di SDN 015 Samarinda Ulu. Segala kendala bisa terselesaikan dengan baik, semangat luar biasa dari teman teman kelompok saya adalah satu inspirasi pertama yang saya peroleh.

14 September 2015, matahari pagi itu terasa beda, ia tampak bersinar penuh ceria, seakan menyapa semangatku yang hari itu bersiap melangkahkan kaki ke salah satu sekolah dasar yang ada di Kota Samarinda. Sesuai dengan jadwal yang ada, semua relawan diharapkan untuk mengikuti Upacara Bendera, dan saya sudah lupa kapan terakhir saya mengikuti upacara bendera di hari Senin, dan hari itu saya sangat bahagia bisa ikut upacara bendera. Upacara berlangsung penuh hikmat, suasananya mengena dihati, selalu merasa bangga lahir dan besar di Negara ini, Indonesia.

Selepas upacara kakak kakak relawan yang terdiri dari Inspirator, Dokumentator dan Fasilitator mengajak adik adik siswa siswi SDN 015 untuk menyanyi sambil menari. Melihat keceriaan mereka, senyum dan tawa lepas mereka, itu adalah moment mahal yang sulit terulang. Setelah itu tibalah akhirnya kami dari teman teman relawan Inspirator untuk memasuki kelas menggantikan bapak ibu guru mereka, mengajar dan berbagi banyak hal kepada mereka.

Disambut dengan penuh keceriaan, diberikan pelukan hangat, mereka berebutan untuk salaman, kesan pertama saya masuk kedalam kelas. Kalian anak anak luar biasa yang dimiliki negeri ini, kalian berhak mendapatkan pendidikan yang layak, ucap batinku kala itu. Sebagai seorang ahli gizi yang setiap hari berkutat dengan penilaian status gizi dan konseling gizi, akan sangat mudah menyampaikan profesi saya dengan bermain menggunakan alat peraga sederhana yakni gambar gambar buah dan sayur. Menyampaiakn kepada mereka bahwa seorang ahli gizi mempunyai tugas untuk menyampaikan tentang makanan yang sehat kepada masyarakat, baik yang sedang sakit ataupun tidak. Beberapa dari mereka ada yang akhirnya bercita cita jadi seorang ahli gizi, semoga Allah memudahkannya.

Disetiap kelas saya diamanahi tugas untuk mengajarkan satu tepuk yakni tepuk kasih sayang, banyak dari mereka malu malu untuk melakukannya, tapi akhirnya mereka dengan mudah melakukannya,. Tepuk kasih sayang ini kemudian membuat saya menjelaskan kepada mereka bahwa kita harus saling menyayangi sesama manusia, contohnya harus sayang kepada orang tua, saudara, guru, teman teman, dan mereka tampaknya paham dan akhirnya tidak malu malu memberi tepuk kasih sayang kepada temannya. Yaaa, ini hanya tepuk sederhana tapi artinya bisa sangat dalam.

Diakhir sesi semua anak kemudian menggantungkan cita cita mereka di pohon impian, berharap impian mereka yang beragam bisa terwujud suatu saat nanti. Pertemuan hari itu akhirnya ditutup dengan foto bersama, semoga kedatangan kami bisa memberi inspirasi buat mereka.
Demikianlah cara Allah mempertemukan kami, menghimpun kami dalam project kebaikan, semoga segala usaha kami bernilai ibadah disisiNya. Akhir kata, terima kasihku kepada semuanya, kalian semua adalah inspirasi luar biasa buatku, bahagia menjadi bagian dari kalian, anak perantauan ini punya tambahan keluarga baru, samapi jumpa di project kebaikan selanjutnya my superteam.

Nonton keseruan kami di Kelas Inspirasi Samarinda SDN 015 Samarinda Ulu, klik https://youtu.be/T67z2TZYxCU

Semangat menebar manfaat,
Salam Santun
@irnayuliani_




Sabtu, 26 September 2015

Bulan dan Bintang

"Taukah kamu kenapa hatiku memilihmu, karena hatimu mencintaiNya, itu cukup bagiku"

Pertemuan yang singkat bukanlah halangan untuk hati memilih, perkenalan yang lama juga tak selamanya bisa jadi jaminan mantapnya hati untuk memilih. Allah sudah mengatur pertemuan bulan dan bintang demikian indah. Pertemuan yang cukup singkat, tapi cukup membuat bulan pulang dengan hati yang berbunga. Ada yang telah menyentuh hatinya, tak lain adalah bintang, lelaki sederhana yang taat pada TuhanNya, santun tutur katanya, dan sungguh lembut hatinya.

Bulan, perempuan periang, yang senantiasa menjaga dirinya agar tetap suci dan mulia di hadapan TuhanNya. Usianya sudah sangat matang untuk segera dipinang oleh seorang pangeran soleh. Tapi entah apa yang dicarinya, beberapa list nama telah diajukan keluarga dan sahabatnya, hingga ia sudah menjalani taaruf beberapa kali, tapi tak juga hatinya mampu memilih.

Hingga kemudian ia bertemu bintang, tak banyak yang diketahui bulan tentang bintang, hanya ada satu hal yang memberatkan hatinya untuk diam memandang pada satu titik fokus, bulan suka cara bintang mencintai Tuhannya. 

Ingin hati bulan memilihnya, tapi apa daya ia seperti perempuan kebanyakan, yang lebih memilih memendam perasaannya, lebih memilih mengutarakan kepada Tuhannya. Bulan tau ia telah jatuh cinta, tapi ia tetap akan selalu menjaga diri dan hatinya untuk seseorang yang kelak ditakdirkan halal untuknya.

Tapi, semua tiba tiba membuat hatinya resah, ketika seorang sahabatnya meminta ia untuk taaruf dengan adiknya. Sungguh berat hati bulan mengatakan ia pada waktu itu, karena hatinya telah memilih. Bulan hanyalah menghormati niatan baik sahabatnya, tooh ini juga baru perkenalan, kan belum tentu lanjut, demikian hati bulan berbisik.

Hati bulan telah memilih bintang, namanya telah mengisi tiap bait doa di hening malamnya, menaruh harapan kepada RabbNya, semoga bintang adalah jodohnya.

Allah, sampaikan pada bintang bahwa ada yang diam diam menjaga hati untuknya, dialah bulan.

Rabu, 23 September 2015

Titik Fokus

Saya terdiam memandang pada satu titik fokus,
Sejak pertemuan kita beberapa waktu yang lalu
Saya tak pernah melihatmu di toko buku ini,
Mungkin itu pertemuan kita pertama kali.

Hari berikutnya dan saya masih pada titik fokus yang sama
Itu pertemuan kita yang kedua kalinya.
Saat aku harus buru buru meninggalkan toko buku itu
Karena sebuah janji dengan seorang teman
Tapi saya tau,  kita akan bertemu kembali.

Ini pertemuan kita yang ketiga kalinya, setelah seminggu berlalu
Saya masih pada titik fokus yang sama.
Terdiam sejenak dalam waktu yang lama.
Mungkin buku buku di rak itu mulai cemburu.

Kamu datang begitu pagi,
Letak buku bukunya masih sama, sewaktu kita tinggalkan kemarin
Sama hal nya dengan titik fokusku
Yang masih nyaman pada satu arah.

Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir
Radarku tak cukup kuat menangkap sinyal
Kapan pertemuan kita selanjutnya
Yang saya tau, saya sudah tak lagi pada titik fokus yang sama
Bukan karena ini pertemuan terakhir
Tapi karena tuhanku menginginkan saya
Untuk tidak lebih lama disana.

Saya hanya berharap semog kita bisa bertemu kembali.

Toko Buku, 23 September 2015

Senin, 07 September 2015

Akhirnya, Aku Jatuh Cinta

Cerita singkat ini berawal ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di sebuah kampus yang kesan pertamaku waktu itu adalah kampus yang begitu asri dan tenang. Pepohonan rindang dimana mana dapat aku nikmati. Memutuskan untuk memilih kampus ini sebagai tujuan pendidikan saya selanjutnya adalah bukan karena minat atau bakat saya di situ karena memang pilihan yang saya inginkan tak bisa saya raih, hingga akhirnya saya  memasuki ruang kelas pertama kali, saya sama sekali belum tau akan jadi apa saya selepas kuliah di sini. Aku hanya menjalani takdir yang Allah gariskan.

Terlahir dalam didikan untuk selalu mencapai yang terbaik, membawa saya bersungguh sungguh belajar untuk bisa meraih prestasi belajar terbaik, tapi ada satu hal yang tidak kutemukan disana, yakni rasa cinta pada profesiku. Aku hanya sekedar menjalani takdir dan mempersembahkan yang sebaik baiknya, sebagai bentuk terima kasih saya kepada orang tua yang telah bersusah payah mendidik dan menyekolahkan saya.

Aku hanya jatuh cinta dengan orang orang disekelilingku, sahabat dan dosen dosenku, organisasi yang membangun karakter dan semangatku, aku benar benar menikmati waktu bersama mereka. Hingga akhirnya saya lulus kuliah, dan memperoleh kesempatan mengamalkan ilmu di masyarakat, tapi lagi lagi itu terasa hanya satu bentuk tanggung jawab.

Takdir kemudian membawaku hijrah ke pulau lain, bertemu dengan berbagai macam suku, tradisi, bahasa dan kebiasaan yang berbeda. Seperti biasa lagi lagi ini terasa hanya sekedar tanggung jawab. Hingga pada suatu hari, saya tak sengaja mengambil sebuah gambar seorang ibu dan anak yang datang ke Posyandu, ia bahagia menyapaku begitu ramah waktu itu, kami sempat berbincang bincang dan ibunya tampak bahagia dengan beberapa saran dariku tentang pemantauan pertumbuhan anaknya.

Wajah ibu itu, senyuman anaknya, membuat hatiku sangat bahagia, ada yang terasa beda, aku bahagia bisa berbagi dengan ibu dan anaknya tadi, sungguh sangat bahagia, dan sepertinya aku mulai menemukan rasa cinta pada profesi ini, rasa yang sekian lama aku nanti, bukan sekedar hanya menuntaskan kewajiban profesi, tapi disana ada ketulusan, ada keinginan berbagi lebih banyak, ada hati yang diam diam bahagia melihat orang lain bahagia mendapat secuil ilmu dariku.



Aku bersyukur ditakdirkan Allah sebagai ahli gizi, semoga dengan cinta yang tumbuh di hati, aku akan semakin mencintai profesiku, yang dengan rasa cinta itu aku bisa semangat untuk terus berbagi. Aaamiin.

Profesi itu bukan hanya soal tanggung jawab, tapi juga tentang bagaimana kita mencintainya, agar semua yang kita lakukan benar benar ikhlas, dan semoga bernilai ibadah disisiNya. Sepertinya hal sholat contohnya, ketika ia hanya sekedar dilakukan adalah untuk menggugurkan kewajiban, ia berlalu tanpa ada rasa. Tapi jika di lakukan karena cinta maka sungguh itu terasa begitu nikmat, begitulah profesi yang Allah anugrahkan, tidak semua orang mampu mencintainya, sebagian besar hanya menggugurkan tanggung jawab. Yaaah, karena segala sesuatunya itu perlu rasa cinta, dan akhirnya aku bisa jatuh cinta pada profesi ini, semoga Allah membantuku menjaga rasa cinta ini.

Aku begitu cinta pada negara ini, aku makan dan minum di tanahnya, dan Allah membukakan jalan kebermanfaatan diriku untuk negeri ini sebagai seorang ahli gizi, lalu Allah menumbuhkan cinta di dalam hatiku, maka pengabdianku setulus hati adalah bentuk rasa syukur yang harus selalu kujaga.

Semoga kawan kawan semua, juga akan jatuh cinta pada profesi mulia yang sedang disandang sebagai seorang ahli gizi.
Terima kasih yaa Allah, akhirnya aku jatuh cinta....

Salam Sehat dan Salam Inspirasi

Minggu, 14 Juni 2015

Rasa Yang Tiba Tiba Datang

Kupikir rasa itu sudah pergi jauh, kupikir rasa itu sudah kumasukkan dalam adonan yang biasa biasa saja. Tiba tiba tanganku menjadi dingin, tiba tiba panik, tiba tiba aliran darah terasa sangat cepat mengalir, jantung serasa bekerja lebih keras dari biasanya, jalur nafas terasa mengalami gangguan, hingga harus berkali kali menarik nafas panjang. Ahhhh, rasa itu tiba tiba datang lagi.....

KepadaMU pemilik hati, aku tak menginginkan rasa itu datang lagi menyapa sekarang, tapi hatiku terbuka lebar, aku tak mampu menahannya. Airmata akhirnya tak tertahankan, diatas sajalah kutuangkan semua isi hati, hati yang tiba tiba merasakan sesuatu.

Untuk kesekian kalinya kutarik nafas panjang, mulut tak henti hentinya berisitiqfar, semoga hati mampu mengeluarkan rasa yang tiba tiba datang. Rasa itu belum seharusnya jadi milikku.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, bukan aku membencimu, tapi belum waktunya kamu menyapa hatiku. Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, aku bukannya tak menginginkanmu, tapi kamu belum pantas untuk kumiliki, tuhanku tidak menyukainya.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, akan kubiarkan saat ini kamu kembali pergi. Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, jika saatnya telah tiba, kamu akan indah bersemi di dalam hatiku, akan kujaga hingga aku kembali pulang menghadap Rabbku.

Hingga waktunya tiba, izin kan aku selalu meminta kepadaNya agar rasa yang kelak datang ditujukan kepada seseorang yang halal bagiku. Seseorang yang dihatinya ada rasa yang sama untukku, seseorang yang begitu indah akhlaknya, seseorang yang saat ini juga sedang menjaga hatinya dari rasa yang tiba tiba datang, rasa yang belum waktunya ada dihatiku dan hatinya.

Kepadamu rasa yang tiba tiba datang, datanglah diwaktu yang tepat, agar rasa itu jadi pahala buatku dan buatnya.

Ruang Hati, 20.30 Wita

Jumat, 12 Juni 2015

Rindu

Di suatu senja, di penghujung bulan september ada rindu yang diam diam menyelinap menembus rongga  hati, entah dari mana datangnya.  Aku tak pernah bertanya seperti apa rindu itu berwujud, yang kutahu mungkin ia datang karena pertemuan yang sudah lama tak ada.

Angin senja itu seperti ikut menyapa, menemani sepiku, menemani tubuhku yang begitu damai menikmati senja. Ada yang aku rindukan kala itu, ia teman masa kecilku, dulu sewaktu kecil aku senang menikmati hari berdua dengan nya. Hingga kemudian aku beranjak dewasa, terkadang aku melupakannya, bahkan kadang tak menginginkan kehadirannya, beginikah rasanya menjadi dewasa. Rasanya ingin menjadi anak kecil saja, tapi demikianlah siklus hidup, ketetapan ilahi kepada semua makhluknya yang hidup.

Langit mulai merona indah, memadukan warna kuning keemasan dengan langit biru, sebentar lagi matahari mengucap salam perpisahan, semoga esok kita bertemu kembali. Senja adalah lukisan alam yang begitu menakjubkan, meski demikian saya tetap menyimpan satu rindu untuk sebuah pertemuan di kala senja esok akan tiba.

Entah sudah berapa lama kita tak bertemu, aku benar benar menanti kehadiranmu, aku rindu menikmati hari bersamamu, menikmati senja bersamamu, walau terkadang aku sering menyalahkanmu.

Allah selalu menyimpan cerita indah di tiap pertemuan kita. Beberapa waktu lalu engkau datang, tapi aku sama sekali tak menghiraukanmu, aku sibuk dengan duniaku, mengucap syukur karena Allah telah izinkan kamu datang, aku pun lupa.

Engkau tentunya tau apa yang membuatku rindu padamu, yaahhh karena diakhir pertemuan kita engkau terkadang memberikan hadiah indah untukku, hadiah dengan beraneka macam warna, hadiah itu adalah pelangi.

Demikianlah saya merindukanmu, hujan.

Semoga kita bertemu di senja esok hari.....

Minggu, 10 Mei 2015

Kapan Nikah

Akhir akhir ini orang orang sering sekali melontarkan pertanyaan yang sama kepada saya, mau itu keluarga, teman teman sekolah, teman kuliah, rekan kerja, bahkan  orang  yang belum lama kenal sekalipun, “Irna Kapan Nikah?”, sebuah pertanyaan yang menurut saya itu susah untuk saya jawab sekarang ini, kata tanya yang menunjukkan waktu, dan tentunya harus dijawab dengan jawaban yang menunjukan waktu, besok, lusa, seminggu kemudian, bulan depan, tahun depan, dan untuk saat ini saya belum memilki jawaban jawaban itu. Akhirnya pertanyaan pertanyaan mereka kujawab dengan jawaban yang sudah sangat bijak menurut saya, “Sekarang waktunya masih menjadi rahasia Allah, demikian pula jodohnya, mohon doakan semoga disegerakan bertemu jodohnya, yang baik buat dunia dan akhirat saya”.

Sebenernya melalui tulisan ini saya pengen sampaikan kepada kalian yang hobby nanya “kapan nikah” kepada teman atau keluarga yang belum nikah. Mulailah mengurangi kebiasaan teman-teman bertanya demikian, karena teman kita belum tentu punya jawabannya, dan itu menurut saya pertanyaan yang agak mengusik batin (Secara Umum), terutama kepada yang umurnya sudah sangat matang, meski sesungguhnya pernikahan itu lebih kepada kesiapan kita untuk menjalaninya.

“Ehh, Temen SD mu itu sudah lamaran tadi sore, minggu depan si A nikah loh, trus katanya bulan depan anak bu salmah mau dilamar juga, kamu kapan? Semua pada melangkahi kamu.

Naah, saya pengen nyampein buat teman teman yang sering dapat omongan kayak kini, jujur aja hati kecil kita mulai agak risih kalo keseringan di omongin kayak ginikan. So, pernikahan itu bukan perlombaan, jadi gak usah buru buru nikah hanya karena teman temen kita sudah pada nikah, trus kita sudah mulai bosan di tanya “Kapan Nikah”.

Pernikahan memang adalah ibadah, mengerjakan separuh agama, tapi dengan syarat bahwa dengan pernikahan ini kita lebih mencintai Allah, dengan pernikahan kita menjadi pribadi yang lebih baik, yang kemarin cuman rajin ibadah wajib, setelah nikah ibadah sunnah juga jalan.

Nah, untuk itu kita mesti memilih pasangan yang dengannya akan saling menguatkan di jalanNya. Mereka yang memutuskan belum menikah, tentunya memiliki alasan masing-masing, dan kebanyakan dari kita jarang menanyakan alasan kenapa belum nikah, dan hanya sedikit yang mau membantu mencarikan jodoh kawan kawannya. Heheheh…… *curcol
+ : Arni mau nikah lohhh
X : Sama Siapa?
+ : Sama Pacarnya
X : Oohhh….
+ : Makanya kamu cari pacar sanaaa, kalo gak punya pacar susah nikahnya…
X : Gue Mengerutkan Kening, --_--))???

Obrolan obralan seperti ini tak jarang kita temui, dan izinkan saya berbagi sekedar mengingatkan diri sendiri. Okey, sahabat semua tentu sudah pada tau kalo di ajaran agama Islam, pacaran itu tidak boleh, kenapa? Yang karena ada zina di dalamnya, zina itu di anggapan masyarakat awam hanyalah jika melakukan hubungan suami istri, tapi zina itu banyak, zina mata, zina telinga, zina hati dll, apalagi yang sudah sering jalan berdua, sudah mulai pegangan tangan, tatap tatapan, padahal orang yang bersama kita itu belum tentu juga jodoh kita. Tau gak sih, betapa Allah tuh sayang sama kita yang perempuan, sesungguhya ayat yang melarang kita mendekati zina di Al-Qur’an itu adalah untuk melindung kita, kaum perempuan, tapi kita gak pernah mau mematuhinya, nanti kalo ada kejadian luar biasa, baru deeehh nangis nangis bombay, yaah penyesalan memang selalu dibelakang. Menikah itu memang ibadah, tapi menikah itu sama sekali gak menghapuskan dosa. Yaa  memang setelah nikah nilainya jadi ibadah, tapi tetap aja dosa zina waktu masih pacaran yaahh gak bakal kehapus kalo kita gak minta ampun kepada Allah atas dosa zina kita.

Saya masih lebih bangga kepada teman teman yang belum nikah tapi mereka masih taat pada Allah, menanti yang halal dengan tetap memantaskan diri. Daripada mereka yang wara wiri pamer dosa berduaan dengan pacarnya. Astagfirullah…

Sahabat sekalian, sungguh aku tak lebih baik dari kalian atau siapapun, tulisan ini hanya salah satu bentuk cinta dan sayang saya kepada sahabat sekalian yang belum tergerak hatinya untuk taat kepada Allah dalam menjemput jodoh. Sebagaimana janjii Allah, laki laki baik baik untuk perempuan baik-baik, dan perempuan baik baik untuk laki laki baik baik, semoga iman dihati masih terus percaya akan janjiNya.

Allah adalah sutradara terbaik, kita hanya butuh meluruskan niat dan tetap ikhtiar, percaya padaNya bahwa jodoh terbaik akan datang di waktu yang terbaik.

Selasa, 21 April 2015

Lukisan Langit (Cerpen)

Hampir tiap pekan kusempatkan mengunjungi salah satu toko buku yang ada di dekat pelabuhan. Toko buku ini termasuk toko buku tertua yang ada di kota ini. Aku suka berkunjung ke sana, koleksi buku buku lamanya lengkap, disamping harganya juga lebih murah dibanding toko buku lainnya.

Siang yang begitu terik, aku menghampiri penjual minuman dingin yang ada di seberang jalan, kemudian buru buru menghabiskannya. Setelah botol minumanku benar benar kosong, aku segera berjalan menuju toko buku langgananku. Toko buku ini meski tak dilengkapi dengan pendingin ruangan, tetap terasa sejuk, memang sudah tak seramai beberapa tahun yang lalu, setelah toko toko buku lainnya mulai berdiri dimana-mana. Toko ini pun tak sebesar toko buku lainnya, yang sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan, sofa untuk membaca, dan fasilitas untuk mencari buku yang kita inginkan.

Tenggelam dengan buku buku yang berjajar rapi, aku sudah tak memperdulikan cuaca terik di luar sana, bahkan mungkin sekelilingku. Fokusku hanya pada buku buku yang ada di depanku, hingga mata ini kemudian terhenti pada satu buku “Lukisan Langit”, demikian judul bukunya. Tiba tiba seseorang muncul dan berkata, “mungkin kamu bagian dari lukisan itu”, sambil tersenyum ia kemudian pergi dan aku masih terdiam, berusaha mencerna apa maksud dari ucapan orang tadi. Aku belum menemukan maksud orang tadi berkata demikian padaku, ketika aku harus buru buru meninggalkan toko buku ini, karena ternyata aku ada janji bertemu dengan seorang teman.

Sudah dua pekan aku tak berkunjung ke toko buku langgananku, aku disibukkan dengan pekerjaan kantor yang begitu padat di akhir tahun. Hari ini aku pulang paling belakang di banding pegawai lainnya, aku memilih merampungkan pekerjaan hari ini, di perjalanan pulang hujan tiba tiba turun, memaksaku untuk berhenti di sebuah café kecil tak jauh dari kantorku. Aku memesan kopi hangat, sekedar teman menikmati hujan. Tiba tiba seseorang datang menghampiriku, dan kemudian bertanya, “bukunya sudah dibaca?”, aku mengerutkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan orang ini. Tanpa menunggu jawabanku, ia pergi begitu saja. Lama kemudian aku baru tersadar, aku baru ingat pernah bertemu dengannya di toko buku. Aku jadi penasaran dengan buku itu. Keesokan harinya aku ke toko buku, dan membelinya. Aku tak sempat membaca buku itu sampai selesai, karena beberapa pekerjaan kantor yang masih belum selesai dan kejar deadline. Setelah lembur berhari hari akhirnya semua pekerjaan kantor pun rampung sebelum pergantian tahun.

1 Januari aku memilih untuk istirahat di rumah dibanding keluar bersama teman teman merayakan tahun baru. Sore harinya, telefon bordering membangunkanku dari tidur siang yang panjang, ternyata ayah. Percakapanku ditelfon sore itu kemudian menghantarkanku pada sebuah moment yang sangat penting dalam hidupku 3 bulan kemudian, yaah itu adalah hari pernikahanku. Pernikahanku dengan seseorang bernama angkasa, ia biasa di panggil Asa. Lelaki yang aku temui pertama kali di toko buku, lelaki yang kini menjadikanku lukisan langitnya. Buku yang kubaca tiga bulan yang lalu, baru kutau bahwa suamikulah penulisnya setelah seminggu pernikahan kami. Aku kembali membaca buku tersebut hingga selesai, dan ditutup dengan derai tangis penuh haru. Buku itu sesungguhnya menuliskan tentang diriku, tentang harapannya menjadikanku lukisan langitnya. Aku begitu kagum padanya, ia begitu pandai menjaga hatinya, bahkan di dalam buku, tak ada yang mampu menebak bahwa sesungguhnya tokoh perempuan dalam buku ini ada dalam dunia nyata, dan itu aku. Terima kasih telah menjaga dirimu dan hatimu untukku, terima kasih kamu menjemputku dalam ketaatan padaNya. Aku akan selalu menjadi lukisan langitmu, Angkasaku.